Direktur Utama RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Supriyanto, Sp.B, FINACS, M.Kes., resmi menyandang gelar Doktor Kesehatan Masyarakat dari Universitas Airlangga (UNAIR) setelah berhasil mempertahankan disertasinya tentang konsep “Hospital Without Walls” (Rumah Sakit Tanpa Sekat) pada sidang terbuka di Surabaya, Jumat (23/1/2026).
Dalam sidang yang dipimpin oleh Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., dr. Supriyanto dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan IPK 3,8. Disertasinya dinilai memiliki kredibilitas ilmiah tinggi dan memberikan kontribusi nyata bagi transformasi sistem kesehatan nasional.
Konsep Hospital Without Walls yang diusung dr. Supriyanto berfokus pada pemerataan akses layanan kesehatan (equal accessibility) bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia menekankan tiga prinsip utama: low cost (biaya rendah), high quality (kualitas tinggi), dan social responsibility (tanggung jawab sosial).
“Sebetulnya Indonesia sudah selesai dalam mendistribusikan layanan kesehatan. Masalahnya tinggal satu: mau atau tidak, dan itu tergantung pembuat kebijakan tertinggi,” tegas dr. Supriyanto dalam keterangannya usai sidang.
Ia memastikan bahwa dalam konsep ini, tidak boleh ada penolakan pasien. “Tidak punya uang, bayar secukupnya. Kalau tidak cukup, tidak usah bayar. Yang penting sembuh,” imbuhnya.
Dokter Supriyanto optimis jika konsep ini diterapkan secara nasional dengan pemetaan yang tepat, sistem kesehatan Indonesia yang inklusif dapat terwujud sepenuhnya dalam waktu empat tahun atau pada tahun 2029.
Sebagai bukti nyata, ia merujuk pada keberhasilan RS dr. Iskak Tulungagung dan capaian RSCM di bawah kepemimpinannya. Selama menjabat di RSCM, ia berhasil melunasi utang rumah sakit dan justru meningkatkan nilai subsidi bagi masyarakat miskin serta menutup selisih biaya BPJS Kesehatan, yang angkanya melonjak dari Rp800 miliar pada 2024 menjadi Rp1,2 triliun pada 2025.
“Kuncinya adalah efisiensi dengan menghilangkan hal-hal yang tidak esensial tanpa menurunkan mutu. Jika klinisi bekerja profesional, keberlanjutan sistem akan terjaga,” jelasnya.
Untuk mewujudkan transformasi ini, dr. Supriyanto menekankan pentingnya sinergi antara empat kementerian utama: Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, dan kementerian yang membidangi teknologi informasi.
Ia menyebutkan bahwa diskusi secara parsial telah dilakukan di berbagai daerah, namun tantangan terbesar saat ini adalah kehadiran kepemimpinan yang kuat untuk mengawal kebijakan ini secara terpusat dan konsisten dari Sabang sampai Merauke.
Editor: William


