SURABAYA – Memasuki bulan Ramadan, perubahan pola hidup menjadi hal yang tak terelakkan. Mulai dari waktu makan hingga jam tidur yang bergeser kerap menjadi tantangan tersendiri. Fenomena ini mendapat perhatian serius dari Lailatul Muniroh SKM MKes, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR).
Menurut Laila, perubahan hormon kortisol dan melatonin saat puasa sangat memengaruhi kualitas istirahat. Kebiasaan begadang hingga waktu sahur—baik untuk tugas maupun sekadar nongkrong—justru menjadi pemicu utama menurunnya kesehatan selama bulan suci.
Bahaya Pola Tidur Berantakan
Jangan sepelekan mata panda! Laila memaparkan beberapa risiko kesehatan jika jam tidur tidak terjaga:
• Efek Jangka Pendek: Penurunan konsentrasi, mood swing, pusing, dan daya tahan tubuh yang melemah.
• Efek Jangka Menengah: Gangguan metabolisme, peningkatan hormon stres, hingga nafsu makan yang tidak terkontrol saat berbuka yang memicu kenaikan berat badan.
• Risiko Tidur Berlebih: Tidur siang terlalu lama juga tidak disarankan karena dapat menyebabkan metabolisme melambat dan tubuh terasa lebih lemas.
5 Kunci Tidur Berkualitas Saat Ramadan
Agar ibadah tetap optimal dengan tubuh yang bugar, Laila membagikan solusi praktis yang bisa diterapkan:
• Tidur Lebih Awal: Segerakan istirahat setelah ibadah malam dan hindari scrolling media sosial sebelum tidur.
• Power Nap: Lakukan tidur siang singkat selama 20–30 menit untuk memulihkan energi tanpa mengganggu jam tidur malam.
• Batasi Kafein: Hindari konsumsi kafein berlebih saat berbuka atau malam hari agar tidak terjaga hingga dini hari.
• Aktivitas Fisik Ringan: Tetap lakukan olahraga ringan di pagi hari untuk menjaga ritme tubuh.
• Gizi Seimbang: Pastikan menu sahur mengandung nutrisi lengkap untuk mendukung energi harian.
“Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh. Ibadah yang optimal lahir dari tubuh yang sehat,” pungkas Laila.
Editor: Lilicya


