BI Perkuat Operasi Moneter, Jaga Stabilitas Kurs RI

Bank Indonesia (BI) mengumumkan berbagai langkah untuk menjaga nilai tukar rupiah, termasuk dengan strategi baru untuk penguatan operasi moneter.

Upaya tersebut dilakukan Bank Sentral demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global imbas perang AS dan Israel melawan Iran. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea membeberkan beberapa penguatan strategi operasi moneter Bank Sentral. Salah satunya, terhitung Senin (30/3) BI mengimplementasikan instrumen baru dalam operasi moneter berupa transaksi repo dalam valuta asing dengan underlying Sekuritas Valuta asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI). 

Baca Juga:  Pelindo Regional 3 Siagakan 21 Terminal Layani Pemudik 2026

“Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market), guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA),” kata Erwin dalam keterangan resmi hari ini (30/3).

Dalam pelaksanaannya, Erwin mengatakan transaksi repo valas tersebut dapat diikuti oleh dealer utama (primary dealer) PUVA.

Ke depan, Bank Sentral menilai kehadiran instrumen baru tersebut dapat memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas.

Selain itu, penambahan fitur repo kepada Bank Indonesia turut semakin memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA).

Baca Juga:  PLN Pastikan Cadangan Listrik di Jatim Aman selama Lebaran 2026

“Melalui penguatan tersebut, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI diharapkan akan semakin meningkat, sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut,” ungkapnya

Pagi ini, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.982 per dolar AS pada Senin (30/3) pagi. Mata uang Garuda melemah 2 poin atau 0,01 persen dari perdagangan sebelumnya.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia bergerak di zona merah. Yen Jepang menguat 0,21 persen, baht Thailand melemah 0,11 persen, yuan China melemah 0,13 persen, peso Filipina melemah 0,36 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,20 persen.

Baca Juga:  Dukung Koperasi Desa Merah Putih, KPPU Ingatkan Prinsip Persaingan Usaha Sehat

Dolar Singapura melemah 0,07 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini.

Sedangkan, mata uang utama negara maju kompak berada di zona hijau. Tercatat euro Eropa menguat 0,07 persen, poundsterling Inggris menguat 0,04 persen, dan franc Swiss menguat 0,04 persen.

Editor: William