SURABAYA – Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan pentingnya sinergi dan langkah adaptif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Hal tersebut mengemuka dalam acara “Jatim Talk” yang digelar di Surabaya, Rabu (1/4). Forum bertajuk “Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan” ini menjadi wadah strategis bagi para pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dalam merespons dinamika ekonomi global.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Jawa Timur saat ini berada pada posisi yang solid. “Ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 5,33% (yoy) pada tahun 2025. Ini menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang di tengah kondisi global saat ini,” ujar Ibrahim dalam pembukaan acara tersebut.
Senada dengan hal itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan peran strategis wilayahnya sebagai “Gerbang Baru Nusantara”. Khofifah menginstruksikan penguatan kerja sama perdagangan antar daerah serta percepatan hilirisasi komoditas strategis. “Sebagai lumbung pangan nasional, Jawa Timur juga fokus pada penguatan distribusi dan peningkatan kualitas SDM guna menjaga stabilitas pasokan,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Bank Indonesia juga menyerahkan Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) kepada Gubernur yang memuat tujuh rekomendasi kebijakan utama. Rekomendasi tersebut mencakup percepatan investasi hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan, hingga perluasan digitalisasi sistem pembayaran.
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Jawa Timur optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan meski dibayangi tekanan global.
Editor: William


