Prabowo Resmi Luncurkan BBM Baru B50

JAKARTA- Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis baru B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (8/7).

Dalam peluncuran, Prabowo didampingi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, CEO Danantara Rosan P Roeslani, Kepala BP BUMN Dony Oskaria dan jajaran kabinet lainnya.

Baca Juga:  Prabowo Dijadwalkan Hadiri Harlah PKB ke-28

“Hari ini, Kamis, 9 Juli 2026 dengan rahmat Tuhan yang maha besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dengan bangga meresmikan program mandatory biodiesel B50,” ujar Prabowo di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek.

B50 adalah bahan bakar biodiesel yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME/Fatty Acid Methyl Ester) dan 50 persen solar (diesel fosil).

B50 merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel pemerintah yang sebelumnya telah menerapkan B20, B30, dan B40. Angka 50 menunjukkan persentase kandungan biodiesel dalam campuran tersebut.

Baca Juga:  Prabowo Ungkap Tim Ekspedisi Temukan Cadangan Emas di Papua

Dasar hukum pelaksanaan Program Mandatori Biodiesel B50 adalah Permen ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Kepmen ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 Tahun 2026 tentang kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen dalam minyak solar.

Kementerian ESDM memastikan sebelum diluncurkan, B50 sudah melewati berbagai macam pengujian yang dimulai dari laboratorium awal 2025. Kemudian dilanjutkan dengan uji penggunaan pada mesin diesel untuk memastikan kinerja, keamanan, dan kompatibilitas B50.

Baca Juga:  PC DMI Gubeng Silaturahmi Pisah Kenang dengan Camat, Perkuat Sinergi Ulama dan Umaro

Dari aspek pasokan dan distribusi, Pemerintah memastikan kesiapan kapasitas produksi biodiesel, ketersediaan bahan baku, serta infrastruktur pencampuran atau blending dan distribusi.

Editor: William