Petani Cabai di Garut Terapkan Smart Green House, Kolaborasi Eptilu dan Bank Indonesia

GARUT – Petani hortikultura di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kini mulai memasuki era baru pertanian berbasis teknologi. Melalui kolaborasi strategis antara pusat edukasi pertanian Eptilu dan Bank Indonesia (BI), para petani lokal didorong untuk mengadopsi sistem pertanian presisi guna meningkatkan produktivitas dan stabilitas ekonomi daerah.

Ketua Eptilu Garut, Rizal Fahreza, mengungkapkan bahwa dukungan Bank Indonesia berperan vital dalam memperkuat inklusivitas dan implementasi teknologi modern. Menurutnya, pendampingan yang diberikan BI dilakukan secara terstruktur dari hulu hingga ke hilir. 

“Bank Indonesia memberikan pendampingan yang terarah, mulai dari capacity building, teknologi produksi secara presisi, penyediaan input produksi, hingga kepastian akses pasar. Ada evaluasi before dan after agar manfaatnya benar-benar terukur,” ujar Rizal di sela-sela agenda kunjungan lapangan di pusat edukasi Eptilu, Jumat Dalam kunjungan yang menjadi bagian dari rangkaian Capacity Building Media Jawa Timur tersebut, Rizal memamerkan fasilitas Smart Green House serta kebun petik jeruk yang menjadi percontohan. Fokus utama program ini menyasar komoditas seperti cabai, tomat, kentang, dan jeruk.

Baca Juga:  Rayakan Imlek, Legacy Ballroom Hadirkan Pertunjukan Spektakuler The Emperor’s Feast

Rizal menekankan pentingnya mitigasi karakteristik tanah melalui uji laboratorium yang presisi. Hal ini dikarenakan setiap jengkal tanah memiliki kebutuhan unsur hara yang berbeda.

“Uji tanah menjadi keharusan untuk memastikan kandungan C-organik dan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman. Kami melakukan mitigasi untuk memastikan unsur hara berimbang agar produk hortikultura Garut tetap sehat dan kompetitif,” jelas lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Baca Juga:  Jatah Kuota Impor Daging Sapi, BUMN 250 Ribu Ton dan Swasta 30 Ribu Ton

Tak hanya soal budidaya, kolaborasi ini juga menyentuh aspek pasca-panen. Eptilu kini telah mengembangkan teknologi olahan produk hortikultura. Cabai, misalnya, tidak lagi hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga diolah untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga stabilitas harga saat terjadi panen melimpah.

Sebagai agregator bagi 125 petani binaan, Eptilu bertanggung jawab atas pengendalian kualitas (quality control) agar produk petani memenuhi standar pasar dengan harga yang layak.

Baca Juga:  Sinergi Empat Lembaga Keuangan: Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33%, Optimisme Berlanjut di 2026

“Petani tetap pemilik utama produksi. Kami di Eptilu membantu memastikan kualitas terjaga dan produk terserap pasar dengan harga yang baik,” tegasnya.

Langkah modernisasi ini diharapkan tidak hanya menekan angka inflasi daerah terutama dari komoditas cabai tetapi juga menjadi prototipe bagi transformasi petani tradisional menuju petani modern yang mandiri dan berdaya saing global.

Editor: Emily