Inspiratif, 3  Mahasiswa KIP-K Unusa Raih Double Degree dari Kampus Taiwan

SURABAYA – Tiga mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil meraih gelar ganda (double degree) di Taiwan, di St. John’s University.

Mereka sebelumnya tidak pernah membayangkan kuliah di luar negeri, kini berhasil meraih double degree dan berencana membangun karir di Taiwan.
Mereka mengikuti Program International Industrial Talents Education Special Program (INTENSE) hasil kerja sama Unusa dengan St. John’s University Taiwan. Program INTENSE merupakan program yang didukung Kementerian Pendidikan Taiwan untuk menyiapkan talenta internasional melalui kolaborasi perguruan tinggi dan industri. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh pendidikan dalam lingkungan internasional sekaligus memperkuat kompetensi profesional dan jejaring global.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muchsin Maulana, Birrul Walidain Al Musthofa, dan Muhammad Halili. Mereka menjadi bagian dari tujuh mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Unusa yang menyelesaikan pendidikan internasional dan diwisuda di St. John’s University pada Sabtu (6/6) lalu.

Baca Juga:  FH Unesa Gelar Seminar Nasional, Menko Yusril Soroti Tantangan Hukum Era AI dan Gig Economy

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan dan pengalaman global. Melalui dukungan Beasiswa KIP-K serta program internasional yang dikembangkan Unusa, mahasiswa mampu bersaing dan memperoleh kesempatan belajar di luar negeri hingga meraih gelar dari perguruan tinggi internasional.

“Senang kita akhirnya wisuda, tapi juga terasa aneh. Biasanya momen besar seperti wisuda dihadiri orang tua. Karena keluarga tidak bisa hadir langsung, tapi mereka masih bisa lihat dari live streaming,” cerita Muhammad Halili.

Ketiga mahasiswa tersebut tentunya melalui perjalanan yang tidak mudah. Selama mengikuti program di Taiwan, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, perbedaan bahasa, budaya, hingga pola hidup yang berbeda dari Indonesia.

Halili mengaku tantangan terberat yang dihadapinya adalah bahasa Mandarin. Selain harus menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahan internasional, ia juga harus beradaptasi dengan cuaca empat musim yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Baca Juga:  Hebat! Delapan Siswa SD Mudipat Raih Nilai Sempurna 100 di TKA 2026

“Awalnya cukup berat karena bahasa Mandarin dan lingkungan yang benar-benar baru. Tetapi seiring waktu kami mulai terbiasa dan kemampuan bahasa Inggris maupun komunikasi kami semakin berkembang,” ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Birrul Walidain Al Musthofa. Menurutnya, kesempatan belajar sekaligus bekerja di perusahaan Taiwan menjadi pengalaman yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.
“Kami bukan hanya kuliah, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja langsung di industri. Ini membuka wawasan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk bersaing secara global,” katanya.

Sementara itu, Muchsin Maulana mengaku bersyukur dapat menempuh pendidikan internasional melalui program yang didukung pemerintah Taiwan dan UNUSA. Sebagai mahasiswa penerima KIP-K, ia merasakan langsung bagaimana kesempatan pendidikan dapat mengubah masa depan.
Di balik berbagai culture shock yang dialami dan perjuangan lainnya, ketiganya berhasil menemukan pengalaman yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Senang bisa sampai di titik ini karena nggak nyangka bisa mendapat kesempatan seperti ini. Kami belajar di lingkungan internasional, berinteraksi dengan berbagai budaya, sekaligus memperoleh peluang karir yang lebih luas,” ujar Muchsin.

Baca Juga:  ICTOH ke-11 di Unair Ajak Generasi Muda  Sadar Bahaya Rokok

Selain tantangan akademik, ketiganya juga harus menyesuaikan diri dengan biaya hidup, makanan, dan kehidupan sebagai minoritas Muslim di Taiwan. Namun pengalaman tersebut justru memperkuat kemampuan adaptasi, kemandirian, dan daya juang mereka.
Menariknya, setelah lulus ketiganya berencana melanjutkan karir profesional di Taiwan untuk menambah pengalaman kerja internasional. Mereka menilai pengalaman belajar dan bekerja di Taiwan telah membuka perspektif baru mengenai dunia kerja global dan perkembangan teknologi yang sangat dinamis.

Rektor Unusa Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA., IPU., ASEAN.Eng., mengatakan, keberhasilan ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk penerima KIP-K, memiliki kemampuan untuk berprestasi di tingkat global apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang tepat.

Editor: William