KH Miftachul Akhyar Sebut Bahtsul Masail Muktamar ke-35 NU Wujud Kebanggaan Organisasi

JOMBANG – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan Bahtsul Masail pra Muktamar ke-35 NU merupakan wujud kebanggaan organisasi.

“Di dalamnya terdapat proses penelitian, pentahqiqan, serta mekanisme dalam menjawab ragam persoalan keumatan, baik di ranah maudluiyah, waqiiyah, maupun qanuniyah,” ujarnya, Selasa (19/8).

Ia juga mengingatkan pesan mendiang KH Maimoen Zubair bahwa daya tarik Bahtsul Masail di masa lampau menjadi alasan utama banyak masyarakat tertarik bergabung dengan NU.

Secara umum, Bahtsul Masail mengkaji berbagai isu strategis keumatan melalui tiga komisi utama.

Baca Juga:  PDUF MUI Jatim, Dompet Dhuafa dan DMI Gubeng Gelar Cek Kesehatan Gratis, Ratusan Warga Bersyukur

Komisi Waqiiyah membahas perkembangan sains kontemporer seperti implan otak nirkabel Neuralink, komersialisasi DNA, dan skema mata uang kripto dalam sistem perekonomian nasional.

Komisi Maudluiyah mengkaji metodologi dan prosedur I’adah an-Nadzar atau peninjauan kembali atas keputusan Muktamar dan Munas Konbes, problematika penyimpangan seksual dalam perspektif fikih Islam, reformasi pajak berkeadilan, hingga penegakan nilai-nilai keulamaan di NU.

Komisi Qanuniyah mengkritisi kebijakan publik melalui RUU Sistem Pendidikan Nasional serta pembahasan terkait pembatasan alih daya, PKWT, pengupahan, dan PHK dalam RUU Ketenagakerjaan. Komisi ini juga merumuskan prinsip Maslahah ‘Ammah dan pembangunan berkelanjutan terkait rekonstruksi kebijakan pembukaan lahan di Papua, serta revisi Qanun Aceh No. 6 Tahun 2014 menjadi Qanun Aceh No. 12 Tahun 2025 demi menjamin keadilan bagi perempuan korban perkosaan.

Baca Juga:  PDUF MUI Jatim Sosialisasi Pengelolaan Dana Abadi Perkuat Kemandirian Pesantren

Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35, Prof. Muhammad Nuh, menyampaikan rangkaian agenda pra muktamar merupakan ikhtiar strategis untuk membangun fondasi dan tradisi ijtihad kolektif lintas generasi dan disiplin keilmuan.

“Bahtsul Masail merupakan respons kontekstual atas dinamika persoalan masyarakat yang berpijak pada otoritas keilmuan yang sahih. Para pecinta Bahtsul Masail yang hadir di sini adalah penggerak budaya akademik yang mencerdaskan kehidupan umat, menghargai keragaman, dan memperkaya pandangan,” ujar Prof. Nuh.

Baca Juga:  Pesan Ketua PCNU Kota Surabaya di Pelantikan Pagar Nusa: Hindari Arogansi Jaga Ketenteraman  

Menurutnya, urgensi Bahtsul Masail Pra Muktamar ke-35 adalah sebagai ruang pendalaman, pengayaan, dan elaborasi materi. Kegiatan ini juga dinilai krusial untuk memperluas partisipasi publik sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat luas atau public awareness.

Teks: Bagus
Editor: William