Dibalik Teh Gambyong Rasa Kopi Lereng Lawu, Dari 50 Hektare Kemuning Hidupkan Ekonomi Warga

KARANGANYAR – Di hamparan hijau Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Solo, ada keunikan yang tidak dimiliki kebun teh lain di Indonesia. Teh di sini, saat diseduh, meninggalkan aroma kopi. Teh itu bernama Teh Gambyong.

Di balik aromanya yang khas, ada kisah panjang pemberdayaan. Dari lahan 50 hektare dengan usia pohon 30 tahun yang bibitnya didatangkan dari Bandung dan Cianjur, Jawa Barat, kebun ini kini menjadi tumpuan hidup 26 petani yang tergabung dalam satu gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Eko Wuryanto, pemilik usaha Teh Gambyong, merintisnya sejak 2014. Setahun kemudian, ia menggandeng warga.

“Saya kumpul dengan para petani, membahas bagaimana saya bisa disuplai bahan baku oleh para petani. Akhirnya kerja sama itu sampai sekarang,” kata Eko saat ditemui di lokasi Pondok Gambyong Kemuning, Senin (6/10) dalam acara Capacity Building Media Bank Indonesia.

Baca Juga:  BI Jatim Fasilitasi 600 Mitra Binaan Kejar Wajib Halal Oktober 2026
Eko Wuryanto menjelaskan rangkaian produksi Teh Gambyong, Selasa (6/10).

Panen Anjlok Saat Kemarau, Melejit Saat Hujan

Tantangan terbesar kebun ini adalah air. Saat musim hujan, kebun bisa menghasilkan 1 hingga 1,5 ton pucuk teh per hari. Saat kemarau, anjlok menjadi hanya 300 sampai 600 kilogram.

“Harapan kita Oktober ini sudah musim hujan sehingga pasokan air tercukupi,” ujar Eko.

Dari satu pohon yang sama, Eko mampu mengolah 5 jenis teh: teh hijau, teh hitam, teh putih, teh oolong, dan teh kuning. Turunannya menjadi 13 varian yang kini dijual: teh sereh, teh kopi, teh jahe, teh hitam, teh putih dan lainnya.

Varian paling diburu? Teh putih. Tinggi antioksidan, untuk kesehatan tubuh. Dan tentu saja, teh kopi – varian signature yang aromanya seperti habis dipakai minum kopi.

Baca Juga:  PLN UIT JBM Latih PKK Sumbersawit Jadi Penggerak Desa Tangguh Bencana

“Jadi seolah-olah gelas yang kita minum buat minum teh tadi seolah-olah habis buat minum kopi, jadi ada aroma kopinya,” jelasnya.

Omset Rp250 Juta, Belum Bisa Ekspor

Kini omset Teh Gambyong mencapai Rp200-250 juta per bulan. Pasar sudah merambah nasional, meski dominan masih Jawa Tengah dan Jabodetabek.

Ekspor? Belum. Permintaan ekspor 1 kontainer 35 ton per bulan, sementara kapasitas produksi baru 15 ton per bulan.

“Berharap ada bantuan pengajuan BPOM dan perluasan lahan,” kata Eko.

Titik balik usaha terjadi sejak 2019, ketika menjadi binaan Bank Indonesia.

“Peran BI alhamdulillah sangat besar. Diberi kesempatan promosi ke berbagai wilayah, dipertemukan dengan buyer sehingga omset meningkat. Kedua, meningkatkan kapasitas dengan bantuan alat pengolahan tanah, alat pangkas mesin, mesin petik dengan kapasitas lebih besar,” tutur Eko.

Hasilnya, produksi naik 40 persen. Teh Gambyong juga sudah mengantongi sertifikat halal dan PIRT.

Baca Juga:  BI Targetkan Pangsa Pasar Keuangan Syariah Tembus 15 Persen di 2028

Rupanya ada dampak paling terasa dirasakan buruh petik. Rebi, buruh tani Teh Gambyong, bersyukur sejak adanya kerja sama dengan Bank Indonesia ekonominya meningkat.

Yang awalnya upah memetik hanya Rp3.000 per 10 kg, kini naik menjadi Rp5.000 per 10 kg. Sehari, ia bisa mengantongi Rp60-80 ribu.

Meski begitu, harapan masih ada. Jika dulu memetik hanya dengan pisau manual, kini sudah ada gergaji listrik khusus untuk memangkas dan merapikan tanaman. Sebuah lompatan teknologi kecil yang berarti besar di lereng Lawu.

Bagi Eko, kebun teh ini bukan sekadar soal daun. Potensi wisata di Kemuning yang dipenuhi jasa EO, outbound, dan kuliner membuat efek domino ekonomi tumbuh.

“Tani pun ekonominya meningkat. Memang ada selisih dengan UMK seperti di Solo, tapi untuk kebutuhan makan sudah tercukupi,” pungkasnya.

Teks: Bagus
Editor: Lilicya