Futechi Farm ITS Transformasikan Sistem Peternakan Modern Berbasis IoT

SURABAYA – Tim mahasiswa Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan inovasi kandang ayam petelur cerdas berbasis otomasi Internet of Things (IoT) bernama Futechi Farm.

Inovasi ini bertujuan mentransformasikan sistem peternakan konvensional menjadi modern yang efisien, produktif, dan terintegrasi. Tim inovator terdiri dari Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo.

Ketua Tim Inovator Muhammad Samsuddin mengatakan sebagian peternak ayam petelur masih mengandalkan tenaga manusia sehingga menghabiskan waktu, tenaga kerja, hingga biaya operasional besar.

Baca Juga:  Samsung Galaxy A08 Resmi Tersedia di Indonesia, Dibanderol Mulai Rp2,9 Juta

“Futechi Farm andalkan sistem yang mengintegrasikan sejumlah proses peternakan, mulai dari pemberian pakan otomatis, pemantauan suhu, pengumpulan telur otomatis, hingga mendeteksi ayam yang sakit,” terang Samsuddin, Minggu (19/10/2026).

Ia menjelaskan pemberian pakan dapat dilakukan otomatis dan terjadwal yang dikendalikan melalui panel kontrol maupun ponsel pintar. Sistem juga dilengkapi pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi serta fitur kecerdasan buatan untuk mendeteksi indikasi penyakit ayam.

“Adanya fitur ini memungkinkan bagi peternak untuk mengobati ayam sebelum jatuh sakit dan produksi telur dapat tetap optimal,” paparnya.

Baca Juga:  Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Berbeda dari kandang konvensional berbahan bambu, Futechi Farm memanfaatkan material weld mesh sehingga kotoran ayam langsung jatuh ke bawah dan pembersihan lebih praktis. Teknologi ini juga mengintegrasikan pengelolaan kotoran ayam dengan kolam lele dan dikembangkan sesuai kapasitas usaha kecil dan menengah.

Inovasi yang diriset sejak awal Januari 2026 tersebut telah mencatatkan penjualan perdana dua unit platform senilai Rp70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur dan satu unit senilai Rp35 juta ke Papua. Proyek ini merupakan binaan Inkubator dan Layanan Bisnis Inovativ (ILBI) Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS dengan dukungan pendanaan Asian Development Bank (ADB) melalui program HETI.

Baca Juga:  Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., http://M.Sc.Eng., Ph.D. mengatakan ITS terus mendorong riset agar tidak berhenti pada konsep akademik semata, melainkan menjawab tantangan masyarakat.

Ke depan, tim berencana mengembangkan Futechi Farm menjadi ekosistem digital, mulai dari integrasi sensor penghitung telur pada conveyor, sistem distribusi pakan otomatis, hingga platform pemasaran yang menghubungkan peternak dengan pembeli berskala besar.

Teks: Bagus
Editor: Lilicya