SURABAYA – Jawa Timur mencatatkan tren positif di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Pertumbuhan penerimaan pajak didorong kenaikan penghasilan wajib pajak yang stabil serta aktivitas bisnis yang ekspansif.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur I Max Darmawan mengungkapkan aktivitas bisnis dan investasi di Jawa Timur tetap bergerak positif.
“Pertumbuhan ini mengindikasikan tren positif aktivitas bisnis dan investasi di Jawa Timur,” ujar Max Darmawan saat media briefing di Surabaya, Rabu (16/9/2026).
Max menyebut penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) secara keseluruhan tumbuh 30,43 persen. Pertumbuhan tersebut didukung stabilitas penerimaan PPh badan serta pertumbuhan dua digit sebesar 19,47 persen.
Realisasi neto PPh final termasuk PPh Pasal 22 untuk bendaharawan pemerintah dan PPh Pasal 26 mencapai Rp4,97 triliun atau tumbuh 22,34 persen.
Kontributor terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang membukukan penerimaan Rp48,60 triliun dengan pertumbuhan 17,83 persen.
“PPN ini secara langsung mencerminkan aktivitas masyarakat karena dilaporkan setiap bulan, sehingga menjadi indikator kuat tingginya daya beli dan stabilitas konsumsi masyarakat,” tegas Max.
Empat sektor utama menjadi motor penggerak penerimaan pajak di Jawa Timur. Pertama, sektor industri tumbuh 10,66 persen didominasi peningkatan volume produksi industri pengolahan tembakau.
Kedua, sektor perdagangan tumbuh 13,82 persen yang merefleksikan kuatnya daya beli dan terjaganya konsumsi rumah tangga.
Ketiga, sektor administrasi pemerintahan melonjak 21,67 persen akibat akselerasi belanja bendahara mencakup belanja barang, jasa, modal, hingga pegawai.
Keempat, sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan tertinggi 28,19 persen sejalan meningkatnya mobilitas barang dan tingginya permintaan jasa logistik.
Sementara itu, dari kepabeanan dan cukai hingga Agustus 2026, penerimaan negara tumbuh 1,75 persen atau mencapai Rp90,25 triliun. Realisasi cukai menyumbang Rp85,51 triliun atau 59,07 persen dari target APBN, sedangkan bea masuk berkontribusi Rp4,27 triliun atau 70,71 persen dari target.
Teks & foto: Bagus
Editor: William


