SURABAYA – Perdebatan di media sosial yang mudah tersulut dinilai menjadi ancaman baru bagi persatuan bangsa.
Pakar sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rojil Nugroho Bayu Aji, mengatakan ancaman terhadap persatuan telah bergeser bentuk.
“Secara historis, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila selalu mengingatkan kita pada dasar negara yang menyatukan. Namun persatuan itu semakin terancam, dan ancaman itu tidak lagi datang dalam bentuk senjata, melainkan bersembunyi di balik kolom komentar dan algoritma media sosial,” ucapnya Jumat (2/10).
Rojil menilai tingginya suhu perdebatan di ruang digital sebagai indikator berbahaya yang dapat meruntuhkan nilai persatuan Pancasila.
“Bahaya terbesar saat ini adalah ketika polarisasi atau pembelahan masyarakat sengaja dipelihara di media sosial. Orang begitu mudah membenci sesama anak bangsa hanya karena beda pandangan politik atau pilihan. Jika ini dibiarkan, kita sedang menggali lubang perpecahan kita sendiri,” tambahnya.
Menurut Koordinator Bonek Surabaya itu, merawat Pancasila harus menjadi perilaku dan filter harian saat bermedia sosial. Sila kemanusiaan harus menjadi kompas agar tidak menghina atau merundung, sila persatuan untuk saling merangkul, dan sila musyawarah untuk berdiskusi secara sehat.
Ia menilai generasi muda memegang posisi strategis untuk meredam polarisasi.
“Anak muda jangan mau dimanfaatkan oleh narasi-narasi provokatif. Jadilah pemutus rantai perpecahan dengan membangun diskusi yang rasional, menghargai keberagaman pandangan, dan menjaga agar ruang digital kita tetap adem,” pungkasnya.
Teks: Bagus
Editor: William


