Mahasiswa Unesa Kenalkan Keragaman Pangan Lokal Lewat Inovasi Digital

SURABAYA – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengenalkan keragaman pangan lokal melalui inovasi edukasi digital bertajuk “Ga Nasi Ga Makan: Pangan Lokal Lain Terlupakan”.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) oleh tim yang dipimpin Muhammad Arju Fawwaz ‘Alaix dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV).

Tim mengangkat kekayaan sumber pangan Indonesia mulai dari beras, singkong, jagung, ubi jalar, talas, hingga sagu untuk dikemas menjadi materi edukasi yang menarik dan mudah dipahami.

Baca Juga:  Peringati Hari Santri, LKK NU dan SMA Maryam Edukasi 1.000 Santri Cegah Pernikahan Dini

“Persoalannya bukan karena Indonesia kekurangan alternatif pangan, melainkan bagaimana alternatif tersebut dapat lebih dikenal, diterima, dan dibiasakan dalam pola konsumsi masyarakat,” ungkap Arju Selasa (3/11).

Berdasarkan data yang digunakan tim, sekitar 98,86 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras, sedangkan konsumsi umbi-umbian sekitar 59,62 persen. Konsumsi beras mencapai 87,3 kilogram per kapita per tahun, sementara umbi-umbian sekitar 18,3 kilogram per kapita per tahun.

Baca Juga:  RS Adi Husada Undaan Wetan Resmikan Klinik Ginekologi Onkologi

Dalam pengembangannya, tim menggunakan pendekatan design thinking melalui lima tahapan yakni empathize, define, ideate, prototype, dan test.

Karya disosialisasikan melalui publikasi digital, media sosial, dan kampanye partisipatif bertajuk #BeragamItuSehat di lima wilayah yakni Surabaya, Gresik, Lamongan, Magetan, dan Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Sasaran mulai dari siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga kelompok ibu-ibu PKK.

Dosen pembimbing Yetty Septiani Mustar menjelaskan pengenalan pangan lokal ditempatkan sebagai upaya memperluas pengetahuan mengenai keragaman sumber karbohidrat, bukan untuk menghilangkan nasi.

Baca Juga:  FISIPOL UNESA Resmikan Tiga Fasilitas Baru, Perkuat Ekosistem Mahasiswa Berdampak

“Pesan yang disampaikan bukan untuk menghilangkan nasi dari pola konsumsi, melainkan mendorong masyarakat agar tidak terpaku pada satu sumber karbohidrat,” jelasnya.

Teks: Bagus
Editor: William