Basha Market Hadir di Surabaya, Perkuat Industri Kreatif Lokal

Setelah sukses merayakan satu dekade di tahun sebelumnya, Basha Market kembali hadir dengan skala yang lebih besar dan lebih segar.
Berlokasi di Next Gen Multipurpose Hall, Ciputra World Surabaya, tahun ini Basha membawa tema Labyrinth, sebuah pengalaman multi-sensori melalui empat instalasi imersif yang keseluruhannya dipenuhi kilauan emas.

Konsep Labyrinth menyajikan sebuah perjalanan menyusuri lorong kenangan, mengeksplorasi memori, persepsi dan nilai. Pemilihan warna emas bukan hanya karena kilau yang rupawan, tapi emas disini sebagai metafora melambangkan harta karun yang tersembunyi di masing-masing diri. Basha mengajak pengunjung untuk ‘jeda’ sejenak dari cepatnya pergerakan dunia.

Di tahun ini, Basha bekerja sama dengan agency Of Sorts dan Sciencewerk untuk merealisasikan konsep Labyrinth. Lorong masuk dengan LED skala penuh akan siap memukau pengunjung. Area tersebut dinamakan Labyrinth – The Entrance to Memory, mengajak pengunjung untuk memasuki sebuah labirin yang menampung banyak kenangan suka cita, duka, bahkan trauma.

Di instalasi ini, pengunjung juga akan menemukan karakter kelinci yang terjebak di dalam beberapa kotak, hal tersebut juga merupakan reflektif dari manusia yang seringkali terjebak dalam suatu kenangan dan sulit untuk melepaskannya.

Selain itu ada juga The UBS Golden Egg, Zojirushi Golden Zen Garden, dan Gilded Tides Immersive Room yang tak kalah memukau. Di tengah kondisi yang serba cepat, lupa makna, karena silau dengan permukaan realita, melalui karya-karya instalasi ini Basha menantang pengunjung untuk bisa melihat lebih dalam.
Devina Sugono, Co-Founder Basha menyebutkan bahwa pada Basha Market – Labyrinth ada beberapa program yang dijalankan guna mempertebal lagi unsur story telling di dalam brand-brand yang bergabung.

Baca Juga:  BI dan Muhammadiyah Kerja Sama Kuatkan Ekonomi Syariah

“Kami menjalankan beberapa program mulai dari sebelum Basha berlangsung sampai nanti hari terakhir Basha. Seluruh program yang kami jalankan tujuannya mensupport seluruh brand. Kami bekerjasama dengan Key Opinion Leader atau KOL dari berbagai segmen untuk mereview lebih dulu produk-produk yang akan hadir di Basha. Program ini kita sebut Basha Haul dan sudah kita jalankan sejak beberapa Basha lalu. Kami merasa ini adalah program yang memiliki impact cukup besar untuk teman-teman brand,” ujar Devina, Jumat (29/8).

Selain Basha Haul, ada juga Basha UGC Corner yang menjadi program terbaru di Basha Market – Labyrinth. Program ini melibatkan profesional host yang juga akan ngobrol bersama brand owner untuk menggali story behind the brand, menampilkan hingga memberikan ulasan mengenai produk-produk di Basha Market – Labyrinth. Program tersebut akan disiarkan secara live selama Basha berlangsung.

“Menurut kami ini bukanlah kerja linear, tetapi sebuah circle yang saling terhubung antara satu dan lainnya. Jadi kalau dilihat antara kami, pemilik brand, kreator, masyarakat, bahkan profesi-profesi lain juga saling mendukung. Basha sebenarnya hanyalah gambaran kecil saja, bahwa dari satu event seperti ini ada banyak sekali yang terlibat sehingga roda ekonomi itu dapat terus berputar,” ujar Devina.

Sejak pertama kali digelar, Basha selalu konsisten untuk menyajikan kebaruan konsep di setiap acaranya, hal tersebut selalu menghasilkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap event ini.

Selain itu kurasi tenant yang selektif dan program-program yang mampu merangkul berbagai lini industri kreatif menjadikan Basha bukan sekadar “market” belaka, melainkan ruang untuk merayakan pertumbuhan industri lokal di Indonesia.

Baca Juga:  Pelindo Rampungkan Pembangunan Terminal Batang Tahap I

Basha mengambil peran untuk menjadi wadah kolaborasi dan pertemuan antara pengusaha lokal, kreator, dan tentunya masyarakat itu sendiri. Terlihat dari tahun ini Basha merangkul beberapa kreator lokal yaitu Dream with Nimbus oleh Paulus Hyu, Gwen The Corgi oleh Eric Noah, dan Robokite oleh Raivan Yogiaman, berkolaborasi bersama brand-brand yang terlibat di Basha Market – Labyrinth dan menghasilkan produk-produk yang sangat menarik.

Adapun brand-brand yang melakukan kolaborasi bersama kreator yaitu : The Overtee, Tiny Soles, Antidot, Zojirushi, Sava Shoes, Popluca, Peculiar, Sleepy Sheep, Eunoia, Koolet, Pita, dan masih banyak lagi. Christie Erin, Co-Founder Basha menyebutkan bahwa sangat senang dapat kembali memberikan ruang kolaborasi antara kreator dan beberapa brand, setelah tahun lalu berhasil membawa Disney Indonesia menjadi inspirasi berkarya brand lokal.

“Tahun ini dapat kesempatan lagi untuk menjadi ‘mak comblang’ antara brand dan kreator, kami sangat bersyukur dan senang sekali. Ini salah satu bentuk konsistensi kami untuk terus mendukung industri kreatif di Indonesia. Sebab tantangan hari ini bukan lagi tentang bagus atau tidaknya sebuah produk, tapi sejauh mana brand mampu untuk terus beradaptasi mengingat tuntutan konsumen yang semakin hari semakin kritis dalam memilih brand yang mereka sukai,” ujar Erin.

Perilaku konsumen saat ini memang sudah bergeser jauh, lebih sadar, kritis, dan berpendidikan secara digital. Tidak sedikit konsumen yang mengutamakan nilai, bukan hanya sekedar harga belaka. Brand lokal tidak boleh cepat terlena, sebab konsumen memiliki kesempatan yang sangat luas, ditambah dengan banyaknya informasi yang dapat di akses, sehingga mudah juga untuk berpaling.

“Yes! Inovasi memang penting banget untuk sebuah brand, selain itu kita juga harus bisa menceritakan kepada konsumen atau masyarakat luas tentang apa value dari brand kita, bagaimana proses pembuatannya, hingga melibatkan siapa saja. Kecondongan masyarakat sekarang, khususnya Gen Z dan Gen Milenial itu lebih memilih produk-produk yang mewakili dirinya,” tambah Erin.
Kehadiran Basha Market bukan hanya memberi dampak ekonomi langsung bagi para pelaku usaha, tetapi juga menghadirkan multiplier effect yang lebih luas.

Baca Juga:  GIIAS Hadir di Grand City Convex Surabaya, Mulai 27-31 Agustus

Devina Sugono juga menambahkan bahwa dari satu kali penyelenggaraan Basha, banyak yang juga mendapatkan dampaknya. “Selalu senang ketika melihat semuanya ikutan ‘sibuk’ karena adanya Basha Market. Gak cuma yang punya brand ya, tapi juga beberapa profesi atau lini bisnis seperti : fotografer, fashion stylish, concept director, studio foto, bahkan event venue juga ikutan banyak yang disewa dalam rangka menjelang Basha. Kami jadi merasa semua yang terlibat ikut memiliki acara ini karena sangat bersungguh-sungguh dan sepenuh hati mempersiapkan semuanya,” ujar Devina.

Kedepannya Basha berharap selalu bisa berdampak untuk industri kreatif di Indonesia. “Kami tahu tantangan pasti akan semakin beragam kedepannya, tapi kami selalu menginginkan Basha berdampak lebih luas dan dapat memperkuat peran di dalam industri kreatif,” ujar Devina.

Erin juga menambahkan, “kami membangun Basha benar-benar dari belum banyak adanya brand lokal, sampai sekarang brand lokal sudah menjadi pilihan utama di masyarakat. Jadi apa yang kami cita-citakan dulu di awal perlahan sudah terbentuk wujudnya. Kami berharap bisa lebih besar terus untuk kedepannya, agar dapat mewadahi lebih besar juga untuk industri kreatif lokal yang selalu bertumbuh,” tutup Erin.

Editor: William

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *