FKH Unair Kendalikan Populasi Kucing Liar dengan Kastrasi

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Rumah Sakit Hewan (RSH) Unair menggelar kegiatan Pengendalian Populasi Kucing di Lingkungan Universitas Airlangga melalui program kastrasi kucing liar. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Januari 2026, bertempat di Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan Unair ke-54, sekaligus menjadi respons atas keluhan mahasiswa terkait meningkatnya populasi kucing liar di lingkungan kampus A, B, dan C Universitas Airlangga.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Lilik Maslachah drh., M.Kes., menyampaikan bahwa program ini merupakan kegiatan berkelanjutan yang lahir dari aspirasi mahasiswa dan hasil hearing pimpinan fakultas dengan Rektor Unair.

Permasalahan kucing liar ini sudah lama dikeluhkan mahasiswa. Setelah disampaikan dalam hearing dengan pimpinan universitas, Pak Rektor memberikan kewenangan kepada FKH untuk mengatasi persoalan tersebut.

Baca Juga:  Unesa Kukuhkan 11 Guru Besar, Bagian Penting Transformasi

“Maka dalam rangka Dies Natalis ke-54 ini, kami melaksanakan kegiatan kastrasi kucing selama tiga hari,” ujar Prof. Lilik.

Dalam kegiatan ini, FKH Unair menargetkan kastrasi terhadap sekitar 30 hingga 50 ekor kucing jantan liar yang berada di lingkungan Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, serta area kampus Unair lainnya.

“Kucing yang ditangani adalah kucing liar yang ada di lingkungan kampus. Setelah dilakukan operasi, kucing akan dilepas kembali. Namun jika ada yang ingin mengadopsi, tentu kami persilakan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kucing yang telah dikastrasi tidak lagi memiliki kemampuan reproduksi, sehingga dapat menekan pertambahan populasi secara signifikan dan berkelanjutan.

Selain persoalan populasi, Prof. Lilik juga menyoroti risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh kucing liar, salah satunya adalah penyakit zoonosis seperti toksoplasmosis yang dapat menular ke manusia.

Baca Juga:  BPJS Kesehatan Layani Selama Nataru, Termasuk Peserta Luar Domisili

“Keberadaan kucing liar bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi menularkan penyakit ke manusia. Oleh karena itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit,” tegasnya.

Ke depan, FKH Unair juga akan melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat di tingkat kecamatan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan hewan dan hubungan erat antara kesehatan hewan dan manusia.

Sementara itu, Wakil Direktur Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga, Dr. Nusdianto Triakoso drh., M.P., menjelaskan bahwa pengendalian populasi kucing merupakan langkah penting yang harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat.

“Kucing adalah hewan kesayangan, tetapi juga memiliki potensi membawa penyakit zoonosis. Jika populasinya tidak dikendalikan, ini bisa menjadi masalah serius. Karena itu, kastrasi adalah langkah paling efektif,” ujarnya.

Baca Juga:  SMA Al Muslim Perkuat Sinergi dengan Wali Murid, Wujudkan Generasi Cerdas, Berkarakter

Dr. Nusdianto juga menyinggung Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Kesejahteraan Hewan, yang melarang penelantaran hewan dan menekankan tanggung jawab pemilik terhadap hewan peliharaannya.

“Hewan kesayangan bukan untuk dibuang ketika sudah tidak diinginkan. Ini soal etika, kemanusiaan, dan kesejahteraan hewan. Kami berharap media juga membantu menyosialisasikan pesan ini kepada masyarakat,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa kastrasi kucing jantan dilakukan melalui prosedur medis standar dengan anestesi umum, dan menjadi metode paling efektif untuk mengendalikan reproduksi, karena metode hormonal seperti pada manusia tidak dapat diterapkan pada hewan.

Selain manfaat pengendalian populasi, kastrasi juga memberikan dampak positif pada perilaku dan kesehatan kucing, seperti mengurangi agresivitas, kebiasaan berkeliaran, menandai wilayah, serta menurunkan risiko penyakit reproduksi.

Editor: William

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *