Sosok KH Abdul Fattah Yasin, tokoh besar Nahdlatul Ulama yang pernah menduduki kursi menteri selama satu dekade, kembali diulas dalam acara bedah buku bertajuk “KH Abdul Fattah Yasin: Teladan Aktivis & Pejuang Bangsa”. Acara ini berlangsung khidmat di Warung Kampung Kawatan, Surabaya, Kamis (12/2) malam.
Pemilihan lokasi di Kampung Kawatan bukanlah tanpa alasan. Ketua panitia, Wildan Ainur Aditya, mengungkapkan bahwa kampung tersebut merupakan tanah kelahiran sang kiai. “Di sinilah beliau lahir, lalu menggerakkan roda perlawanan terhadap Belanda hingga akhirnya dipercaya menjadi menteri selama 10 tahun,” ujar Wildan di hadapan puluhan aktivis dan pecinta sejarah yang hadir.
Dr. Wasid Mansyur, penulis buku sekaligus dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel, memaparkan betapa luasnya kiprah Kiai Fattah. Selain pernah menjabat sebagai Menteri Urusan Sosial dan Menteri Penghubung Alim Ulama di era Soekarno, Kiai Fattah merupakan inisiator berdirinya Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).
“Saya sempat melakukan kroscek langsung ke markas ALRI di Malang untuk memvalidasi peran beliau,” kata Dr. Wasid.
Ia juga menyoroti peran Kiai Fattah sebagai Ketua Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (Pertanu). Sebelum tahun 1963, Pertanu di bawah arahannya sangat vokal mengurusi isu pertanahan sebagai respons atas UU Agraria. Sebagai mantan anggota laskar Hisbullah, keberaniannya tak surut, termasuk saat membela Yayasan Khadijah Wonokromo dari upaya penyerobotan tanah oleh PKI.
Meski memiliki rekam jejak yang mentereng, proses penyusunan buku setebal 207 halaman ini diakui Dr. Wasid penuh tantangan. “Kesulitan terbesar adalah akses data. Saya mulai menyusunnya sejak Januari 2026 dan sempat mengalami birokrasi yang rumit saat mencari dokumen pendukung,” kenangnya.
Tokoh Penting yang Terlupakan
Ketokohan Kiai Fattah turut diamini oleh Dr. Yahya Muhammad dan Dr. Ahmad Karomi. Dr. Yahya menyebut gelar haji yang disandang Kiai Fattah saat itu adalah simbol pengakuan keilmuan Islam yang tinggi, sementara Dr. Karomi menekankan statusnya sebagai murid Syaikhona Kholil Bangkalan yang gigih membela kaum tani di Surabaya.
Apresiasi unik datang dari aktivis literasi, Mukani. Ia menyamakan kerja keras Dr. Wasid dengan jurnalis legendaris Jimmy Breslin saat meliput pemakaman John F. Kennedy. Jika Breslin memilih menulis tentang penggali kubur Kennedy ketimbang sang presiden, Dr. Wasid memilih menulis tokoh yang nyata aksinya namun jarang tersorot kamera.
“Mas Wasid menulis tokoh yang aksinya nyata meski tidak selalu di bawah sorot kamera. Ini adalah kontribusi besar bagi historiografi kita,” pungkas Mukani.
Editor: William


