SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus inklusif dengan menyelenggarakan program mengaji Al-Qur’an isyarat selama Ramadan 1447 H. Kegiatan ini salah satunya berlangsung di Masjid Baitul Makmur Unesa Ketintang, Surabaya, pada Senin (2/3).
Direktur Disabilitas Unesa, Prof. Budiyanto, menyatakan bahwa program ini merupakan agenda tahunan yang telah berjalan efektif sejak tahun lalu. Untuk tahun ini, tercatat sebanyak 27 mahasiswa disabilitas rungu, atau yang lebih akrab disapa Komunitas Tuli, terdaftar sebagai peserta.

“Program ini dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis. Tujuannya agar mahasiswa secara personal dapat memperdalam ilmu agama, sekaligus mengedukasi Juru Bahasa Isyarat (JBI) agar memahami isyarat hijaiyah untuk kebutuhan penerjemahan di berbagai event pengajian,” ujar Prof. Budiyanto saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menariknya, penggerak utama atau “motor” dari kegiatan ini adalah Komunitas Tuli Unesa (KotuNesa). Pelatih yang bertugas merupakan mahasiswa tingkat akhir dari program studi Pendidikan Khusus yang juga menguasai bahasa isyarat dengan fasih.
Metode pembelajaran dilakukan secara langsung menggunakan bahasa isyarat. Materi yang diajarkan cukup komprehensif, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah isyarat hingga membaca surat-surat pendek dalam Al-Qur’an.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Fitroh, menambahkan bahwa selain fokus pada Al-Qur’an isyarat, para peserta juga dibekali dengan materi keislaman lainnya. “Beberapa mahasiswa memang belum menguasai Al-Qur’an isyarat. Selain itu, kami juga memberikan materi tentang tauhid, tata cara wudhu, hingga tata cara salat,” jelasnya.
Meski antusiasme tinggi, Prof. Budianto menyebutkan kehadiran peserta pada hari Senin tersebut sedikit berkurang akibat faktor cuaca. “Tadi yang dari kampus Lidah Wetan banyak yang tidak bisa bergabung karena terkendala hujan angin di sana,” tambahnya.
Saat ini, Unesa menaungi sekitar 130-an mahasiswa disabilitas dari berbagai ragam, mulai dari Tuli, Tunanetra, disabilitas fisik, hingga autis. Selain program isyarat bagi Komunitas Tuli, Unesa juga memfasilitasi mahasiswa Tunanetra untuk mengaji menggunakan Al-Qur’an Braille sebagai bagian dari program berkelanjutan di lingkungan kampus.
Penulis: Bagus
Editor: Lilicya


