SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melantik 16 dokter baru dalam prosesi pengambilan sumpah dokter yang berlangsung khidmat. Menariknya, sebanyak 84 persen dari para lulusan tersebut berasal dari keluarga non-dokter, sebuah capaian yang mendobrak stigma profesi dokter sebagai profesi “darah biru” atau eksklusif.
Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Budi Santoso, mengakui bahwa selama ini profesi dokter sering kali dianggap sulit ditembus oleh masyarakat umum karena faktor biaya dan lingkungan. Namun, hasil pelantikan kali ini membuktikan bahwa akses pendidikan kedokteran kini semakin inklusif.
“Tidak banyak memang dokter yang berasal dari keluarga non-dokter. Selain biaya, proses belajar kedokteran butuh pengalaman tambahan yang biasanya lebih mudah didapat jika ada keluarga yang juga dokter,” ujar Prof. Budi, Kamis (21/5).
Ia pun berbagi kisah pribadinya sebagai dokter generasi pertama di keluarganya yang kemudian berhasil membuka jalan bagi keturunannya.
Senada dengan hal tersebut, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono menegaskan bahwa Unusa berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berkeadilan. Menurutnya, keberhasilan para mahasiswa dari latar belakang non-dokter ini bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan sebuah transformasi sosial.
“Hadirnya mayoritas dokter dari keluarga non-dokter adalah bukti nyata bahwa pendidikan kedokteran tidak boleh eksklusif. Ini adalah profesi mulia yang harus bisa diakses oleh anak bangsa dari latar belakang apa pun,” tegas Prof. Tri Yogi.
Salah satu dokter yang dilantik, Benta Malika El Ghameela, menceritakan perjuangannya sebagai anak pedagang. Ia mengaku harus bekerja lebih keras karena tidak memiliki gambaran awal mengenai dunia kedokteran dibandingkan rekan-rekannya yang memiliki orang tua dokter.
“Saya diibaratkan sebagai pembuka pintu untuk keluarga besar. Setelah saya diterima di FK Unusa, dua sepupu saya akhirnya ikut mengikuti jejak saya,” ungkap Benta.
Melalui pelantikan ini, Unusa berharap dapat mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat bahwa profesi dokter dapat diraih oleh siapa pun yang memiliki kemampuan dan tekad, didukung dengan lingkungan belajar yang suportif dan adaptif.
Editor: William


