SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menegaskan komitmennya sebagai kampus inklusif dalam acara wisuda yang digelar pada Rabu (22/4). Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Suster (Sr) Yustina Klun Kolo, SSpS, mahasiwi beragama Katolik asal Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sukses menyelesaikan studinya di lingkungan kampus yang mayoritas Muslim.
Yustina, wisudawan Program Studi D4 Analis Kesehatan, bahkan diberikan kepercayaan untuk menyampaikan pidato mewakili para wisudawan. Mengenakan jubah kebesaran biarawati, gadis kelahiran Dili tersebut membagikan pengalamannya menempuh pendidikan di Unusa dengan suasana penuh toleransi.
“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ujar anak keempat dari tujuh bersaudara tersebut.
Ia mengaku sempat merasa khawatir saat awal memulai studi. Namun, kekhawatiran itu sirna karena sikap profesional para dosen dan kurikulum kampus yang adaptif. Salah satu pengalaman uniknya adalah saat menempuh mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Bagi Yustina, materi tersebut justru memperkaya perspektifnya mengenai nilai keislaman yang moderat dan pentingnya hidup berdampingan.
Pengalaman Yustina ini dipandang sebagai representasi konkret implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) di lingkungan Unusa, khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 16 (Perdamaian dan Keadilan).
Partisipasi Unusa dalam Times Higher Education Impact Rankings juga memperkuat posisi institusi ini dalam kontribusi sosial global, bukan sekadar capaian akademik. Unusa membuktikan bahwa kampus mampu menjadi laboratorium sosial keberagaman di tengah tantangan polarisasi saat ini.
Kini, Yustina telah mulai mengabdikan diri dan bekerja di RSK Budi Rahayu, Blitar. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi masyarakat bahwa perbedaan agama dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan untuk memperkuat persatuan.
Editor: William


