BI Sebut Penjualan Eceran di Jatim Maret 2026 Melonjak 13,6 Persen

SURABAYA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (BI Jatim) mencatat kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE), Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 diprakirakan mencapai 525,2 atau tumbuh 13,6% secara tahunan (yoy). 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim, Ibrahim, menyatakan bahwa angka tersebut melampaui realisasi pertumbuhan pada Februari 2026 yang sebesar 13,2% (yoy). Secara bulanan (month-to-month), penjualan juga melesat 8,4%, naik tajam dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 4,2%. 

Baca Juga:  BI Perkuat Operasi Moneter, Jaga Stabilitas Kurs RI

“Peningkatan ini terutama didorong oleh lonjakan permintaan masyarakat menjelang Idulfitri,” ujar Ibrahim di Surabaya, Selasa (21/4/2026).

Ibrahim merinci, kontributor terbesar kenaikan ini berasal dari Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Kelompok Barang Lainnya pada Subkelompok Sandang. Selain itu, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Barang Budaya dan Rekreasi tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. 

Meski demikian, pertumbuhan secara keseluruhan masih sedikit tertahan oleh kontraksi pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. 

Baca Juga:  Tanamkan Kesadaran Pajak Sejak Dini, Kanwil DJP Jatim I Gandeng 5 SMAN di Surabaya

Sebelumnya, performa impresif juga terlihat pada Februari 2026 dengan IPR sebesar 484,3. Pertumbuhan ini dipicu oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Imlek, cuti bersama, serta awal Ramadan yang disertai berbagai program diskon.

Menatap periode mendatang, responden survei optimis penjualan eceran akan tetap positif pada Mei dan Agustus 2026. Momentum Iduladha 1447 H dan Hari Kemerdekaan RI diprediksi menjadi penopang utama konsumsi masyarakat.

Baca Juga:  BPS Jatim Siap Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Namun, BI Jatim memberikan catatan waspada terkait ketidakpastian global. “Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat ke depan,” pungkas Ibrahim. 

Editor: William