Unesa Gelar Dialog Kebangsaan Ekspresi KITA, Lawan Gempuran Budaya Asing

SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan Dialog Kebangsaan Seri 7 bertajuk “Ekspresi KITA” di Gedung Graha Unesa, Lidah Wetan, Sabtu (9/5). Acara yang dihadiri ribuan mahasiswa ini bertujuan memperkuat jati diri bangsa di tengah masifnya pengaruh budaya asing pada generasi muda.

Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., atau yang akrab disapa Cak Hasan, menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena remaja saat ini yang lebih menggemari budaya K-Pop dibandingkan seni budaya sendiri. Ia menegaskan bahwa hilangnya kecintaan terhadap budaya lokal dapat mengancam eksistensi kebangsaan.

“Muncul pertanyaan, ada apa dengan generasi kita? Padahal seni budaya Indonesia sangat terkenal di luar negeri. Manakala cinta budaya hilang, maka hilanglah kebangsaan kita,” tegas Cak Hasan dalam sambutannya.

Baca Juga:  Wamendikdasmen Blacklist Peserta Pengguna Joki UTBK di Unesa

Cak Hasan menyoroti pesatnya teknologi yang membuat budaya luar masuk secara agresif sehingga menciptakan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) pada Gen Z. Ia mendorong penggunaan teknologi sebagai sarana adaptif untuk mewariskan seni budaya lokal agar tetap relevan dan tidak punah tergerus zaman.

Dalam kesempatan tersebut, musisi sekaligus anggota DPR RI, Once Mekel, turut hadir menekankan pentingnya perlindungan terhadap seniman. Once mengungkapkan bahwa pihaknya tengah memperjuangkan RUU Hak Cipta sebagai solusi transparan bagi para pelaku seni.

Baca Juga:  PCNU Surabaya Ajak Pemkot dan DPRD Bersinergi Atasi Permasalahan Umat

“Ini jadi jalan tengah untuk banyak orang, semua dapat haknya secara adil. Mari memperjuangkan kesenian bangsa, harus kita lindungi karena kesenian adalah alat mentransfer perasaan yang menyatukan kita,” ujar Once.

Nada kritis juga datang dari personel Slank, Bimbim. Di sela rencana membawakan 15 lagu untuk mahasiswa Unesa, ia menyentil kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini. Melalui lagu-lagu terbaru Slank, seperti “Republik Fufufafa”, Bimbim mengeluhkan pengelolaan uang rakyat yang dianggap merusak bangsa dan menciptakan ketimpangan sosial yang tajam.

Baca Juga:  Fatayat NU dan IPPNU Surabaya Perkuat Sinergi dalam Resepsi Harlah

“Aku melihat ketimpangan sosial. Rata-rata ekonomi yang maju hanya di tingkat elitnya saja. Ini berada di ujung jurang,” tutur Bimbim.

Dialog ini juga menghadirkan tokoh dan musisi lain seperti Kaka Slank, Alffy Rev, hingga Novia Bachmid. Melalui momentum ini, Unesa berharap Graha Unesa terus menjadi wadah gagasan ide kebangsaan, serta berharap tokoh-tokoh nasional lainnya dapat hadir memberikan inspirasi bagi mahasiswa di masa depan.

Editor: William