SURABAYA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, resmi melepas 3.000 lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 600 lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) untuk bekerja di luar negeri. Prosesi pelepasan ini berlangsung di Gedung Islamic Center Surabaya pada Rabu (20/5).
Selain pelepasan kerja, acara tersebut juga menandai peluncuran program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) pada jenjang SMK di wilayah Jawa Timur. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk penguatan pendidikan vokasi agar semakin adaptif terhadap tingginya permintaan pasar kerja global.

Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi dalam pelaksanaan program peningkatan mutu kelulusan ini. Kesempatan kerja ke mancanegara dibuka secara merata untuk seluruh satuan pendidikan, baik sekolah negeri maupun swasta.
“Semua kami buka kesempatannya, negeri maupun swasta, karena ini adalah bagian dari membangun partisipasi semesta dan mendidik anak-anak Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti di Islamic Center Surabaya.
Abdul Mu’ti turut memaparkan skema program Kelas Kebekerjaan 4 tahun (3+1). Skema tersebut dirancang dalam dua bentuk: sekolah yang sejak awal menggunakan kurikulum 4 tahun, serta skema tambahan 1 tahun bagi siswa yang telah lulus program 3 tahun namun ingin memperdalam kompetensi khusus sebelum terserap industri global.
Senada dengan hal itu, Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya integrasi kompetensi teknis (hard skills) dan penguasaan bahasa asing agar tenaga kerja asal Indonesia memiliki nilai tawar tinggi di mata dunia. Sektor kerja global yang ditembus para lulusan ini sangat beragam, mulai dari manufaktur, perhotelan, hingga spesialisasi tinggi seperti pertanian modern di Jepang dan pengelasan bawah laut (welding) di Jerman.
“Dunia saat ini sangat menaruh perhatian pada aspek employability atau keterserapan kerja lulusan. Oleh sebab itu, kemampuan bahasa asing dan keterampilan teknis harus menyatu agar mereka siap bersaing langsung dengan user di luar negeri,” tutur Khofifah.
Program kolaboratif antara pemerintah pusat dan daerah ini diharapkan dapat terus memperluas konektivitas institusi vokasi dalam negeri dengan jaringan industri internasional. Sekaligus mencetak para lulusan menjadi pahlawan devisa yang kompeten dan membawa pulang ilmu bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
Dwi Sarah Alfitri siswi dari SMKN 1 Batu, bersyukur mengikuti magang perhotelan di Turki melalui program sekolah gratis yang didanai pemerintah dan industri.
“Peserta wajib melewati lima tahap seleksi, termasuk asesmen fisik, tes psikologi, medical check-up, serta kursus bahasa Inggris selama lima bulan,” ungkapnya.
Menurutnya program ini bertujuan membuka peluang kerja berpenghasilan tinggi di luar negeri, dengan sistem pembiayaan industri yang dibayar saat bekerja.
Penulis: Bagus
Editor: Lilicya


