JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelontorkan dana bantuan Rp2,9 triliun untuk merevitalisasi 3.101 sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Bencana tersebut berdampak luas terhadap 4.922 satuan pendidikan, 707.161 peserta didik, serta 59.620 guru dan tenaga kependidikan (GTK). Guna memulihkan layanan pendidikan, Kemendikdasmen mempercepat pembangunan fisik dan penyediaan ruang kelas darurat agar bisa digunakan pada tahun ajaran baru 2026/2027 pada Juli 2026 mendatang.
Realisasi Bantuan dan Progres Fisik
Data per 25 Mei 2026 mencatat sebanyak 3.033 sekolah telah menerima penyaluran dana tahap I sebesar 70 persen dengan total Rp2 triliun. Sebanyak 68 sekolah lainnya masih dalam proses penyaluran dana sebesar Rp31,7 miliar.
Dari total sekolah yang dibantu, sebanyak 2.834 sekolah dikerjakan secara swakelola dan 267 sekolah rusak berat atau relokasi ditangani oleh TNI AD. Saat ini, progres fisik bangunan bervariasi:
• Di atas 70%: 28 sekolah
• Rentang 51–70%: 223 sekolah
• Rentang 31–50%: 574 sekolah
• Di bawah 30%: 2.208 sekolah
Sebanyak 311 sekolah ditargetkan selesai 100 persen sebelum Juli 2026. Selain infrastruktur, pemerintah juga menyalurkan bantuan khusus senilai lebih dari Rp315 miliar kepada 52.513 GTK terdampak.
Kendala Relokasi Lahan
Direktur Jenderal PAUD Dikdas PNFI, Gogot Suharwoto, menyatakan di Jakarta pada Jumat (29/5) bahwa 31 sekolah relokasi sedang dikerjakan oleh TNI AD. Namun, masih ada 66 sekolah yang belum melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) akibat kendala lahan dengan pemerintah daerah.
“Dari 66 sekolah tersebut, 23 sekolah belum tersedia lahannya, 16 sekolah dalam proses pengurusan, dan 27 sekolah sudah siap lahannya namun masih menunggu dokumen legalitas,” kata Gogot.
Pemulihan di Aceh Tamiang dan Pidie Jaya
Di Kabupaten Aceh Tamiang, revitalisasi SLBN Pembina Aceh Tamiang yang sempat rusak parah akibat banjir bandang November 2025 kini mencapai 24,4 persen. Kepala Sekolah Supranata menargetkan proyek rampung Juni 2026 dengan mengerahkan 50 pekerja. Saat ini siswa belajar menggunakan tiga ruang kelas darurat, gedung keterampilan, dan mushola.
Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya, progres revitalisasi SMK Ummul Ayman secara keseluruhan telah mencapai 29 persen, dengan pembangunan ruang kelas baru (RKB) hampir menyentuh 50 persen. Kepala SMK Ummul Ayman, Faisal, menjelaskan aktivitas belajar mengajar sementara dialihkan ke bangunan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah yang berada di komplek yang sama.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan komitmen pemerintah untuk menyediakan lingkungan belajar yang aman dan layak pada tahun ajaran baru, baik melalui bangunan permanen maupun ruang kelas darurat.
Editor: Lilicya


