SIDOARJO – SMP Al Muslim bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sidoarjo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk _“Berani Beda, Menolak Tanpa Ragu”_ untuk membekali murid menghadapi tekanan teman sebaya dan ancaman narkoba. Kegiatan diikuti seluruh siswa kelas VIII dan IX SMP Al Muslim.
Kepala SMP Al Muslim Ustazah Ika Sriyaningsih M.Pd. mengatakan, tantangan pergaulan remaja saat ini semakin kompleks. Ancaman narkoba, perundungan siber, hingga pergaulan bebas terselubung kini mengintai melalui dunia nyata maupun media sosial.
“Tantangan pergaulan yang dihadapi anak-anak kita hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Anak-anak di usia remaja cenderung defensif jika kita hanya memberikan doktrin atau ceramah satu arah. Melalui metode FGD ini, kami menciptakan ruang diskusi yang terbuka, aman, dan interaktif agar murid mampu berpikir kritis dan menemukan kesadaran untuk membentengi diri,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Al Muslim Ustaz Yogi menambahkan, banyak siswa terjerumus perilaku negatif bukan karena niat buruk, melainkan takut diasingkan teman.
“Lewat kolaborasi bersama BNN Sidoarjo, kami memfasilitasi murid dengan simulasi keadaan nyata. Tujuannya agar mereka memiliki keterampilan praktis dan keberanian mental dalam menyampaikan penolakan secara tegas tanpa merusak hubungan pertemanan,” jelasnya.
FGD menghadirkan narasumber dari BNN Sidoarjo yakni Widiati Dyah K.W.,S.I.Kom., Yusuf Rizal, S.H., Eka Januar W., S.I.Kom., Amalia Purnasari R., S.I.Kom., dan Bayu Purnama R., S.Pd. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman bahaya dan modus baru narkoba, dampak psikologis peer pressure, teknik komunikasi asertif, hingga manajemen lingkungan pertemanan positif atau _positive circle_.
“Benteng utama bagi murid adalah ketegasan tanpa kekerasan, keteguhan pada prinsip diri, serta kecerdasan memilih lingkungan. Dengan tiga hal ini seorang murid akan memiliki kepribadian tangguh sehingga tidak mudah terpengaruh ajakan negatif,” tegas perwakilan BNN Sidoarjo.
Metode diskusi terarah dan simulasi situasi memberikan dampak langsung bagi peserta. Juna, siswa kelas VIII, mengaku kini lebih berani menolak ajakan negatif.
“Dulu kalau ada ajakan teman yang kurang baik, saya sering bingung dan takut diasingkan. Setelah ikut FGD dan bimbingan dari BNN Sidoarjo, saya paham bahwa menolak hal buruk itu bukan sombong. Justru itu wujud sayang terhadap masa depan diri sendiri. Sekarang saya lebih berani mengatakan ‘tidak’ secara sopan tetapi tegas,” tuturnya.
Melalui FGD ini, SMP Al Muslim berharap model edukasi interaktif berbasis kesadaran kritis dapat diadaptasi sekolah lain. Sinergi lembaga pendidikan, orang tua, dan instansi seperti BNN disebut menjadi kunci mencetak generasi muda yang berkarakter kuat dan berani menolak segala bentuk ancaman negatif.
Teks: Bagus
Editor: William


