Basha Market Hadirkan 150 Jenama, Usung Tema Livin’ in Paradis

SURABAYA – Di tengah tekanan ekonomi dan pergeseran perilaku konsumen, Basha kembali hadir. Creative market yang sudah 12 tahun menjadi pelopor di Indonesia ini memperpanjang durasi menjadi 4 hari dan merangkul lebih dari 150 jenama dalam gelaran “Basha: Livin’ in Paradis” di Next Gen Multipurpose Hall, Surabaya, 27–30 Agustus 2026. Didukung Visa, acara ini hadir bukan sekadar sebagai tempat jualan, tapi sebagai ruang bertahan bagi ekosistem kreatif lokal.

Co-Founder Basha, Christie Erin, mengaku sempat ragu untuk menggelar Basha tahun ini. “Kami seperti deja vu melihat kondisi hari ini, rasanya seperti saat menjalani pandemi beberapa tahun lalu. In this economy, banyak teman-teman pelaku industri kreatif yang juga terpapar dan struggling menjalaninya,” ujarnya Kamis (27/8).

Keraguan itu muncul karena tantangan yang dihadapi jenama lokal hari ini berlapis. Mulai dari krisis akselerasi kreativitas, tekanan harga bahan baku, kebijakan baru, kejenuhan interaksi online, hingga minimnya infrastruktur kolaboratif.

Baca Juga:  Geely Coolray Resmi Debut di GIIAS Surabaya 2026, Dibanderol Mulai Rp341 Juta

Namun setelah berdiskusi dengan berbagai komunitas, keputusan diambil: Basha harus tetap jalan. “Hari ini kita gak mau ngomongin angka, target, penjualan, dan lainnya. Harapannya di tengah kondisi yang serba penuh perhatian ini, Basha dapat hadir untuk teman-teman brand lokal dan mengajak semuanya tetap bergerak untuk industri kreatif,” tambah Erin.

Dari Jualan ke Pengalaman

Co-Founder Basha lainnya, Devina Sugono, menekankan bahwa creative market seperti Basha adalah pilar penting. “Kami percaya pengalaman berbelanja secara langsung memiliki dimensi emosional yang berbeda. Kita jadi bisa ngobrol lebih banyak dengan kreatornya, kita bisa memegangnya bahkan mungkin berkesempatan untuk mencoba produk-produknya,” kata Devina.

Tahun ini, Basha sengaja membuka pintu lebih lebar untuk jenama dari luar Surabaya. Ada brand dari Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan kota lainnya. Banyak di antaranya yang baru pertama kali ikut Basha Market.

“Kami sangat excited, karena mampu mempertemukan teman-teman brand dan pengunjung yang selama ini penasaran tapi belum sempat untuk melihat produk-produknya secara langsung,” ujar Devina.

Baca Juga:  GIIAS Surabaya 2026 Hadirkan Program Shop & Win

Lebih dari 20% peserta tahun ini adalah wajah baru. Nama-nama seperti Alexalexa, Josephine Anni, BYO, Nappa Milano, Atsiri, Nomad Studio, Mandys, hingga HSF Eyewear ikut meramaikan. Kategorinya pun beragam: fashion, lifestyle, mom and kids, skincare, fragrance, home and living, eyewear, activewear, hingga food and beverage.

Proses kurasi tetap menjadi kunci. Tim Basha menilai dari branding, ulasan, nilai komersial, hingga kecocokan dengan pasar. “Sangat variatif, mulai dari gaya atau style-nya, segmentasi produk. Bahkan kalau kita sadari akhir-akhir ini sedang muncul tren olahraga, di Basha – Paradis juga ada apparel buat pengunjung yang suka olahraga. Sebelum-sebelumnya kami sering diprotes ‘mana nih yang buat cowok?’, nah di tahun ini kami menghadirkan lebih banyak lagi varian produk untuk laki-laki,” jelas Erin.

“A World of Experiences”

Baca Juga:  KPPU Bentuk Satgas Kawal Penataan BUMN, Jaga Persaingan Usaha Sehat

Mengusung konsep “a world of experiences”, Basha: Livin’ in Paradis dirancang sebagai eksplorasi penuh warna yang memadukan nostalgia, irama, dan pengalaman berbagi. Bukan hanya etalase produk, tapi juga atmosfer, estetika visual, dan koneksi antar pengunjung dengan jenama.

“Melalui Basha – Paradis, kami ingin menjadi sebuah destinasi yang memiliki karakter dan menyajikan pengalaman yang berbeda. Kami ingin pengunjung bisa datang, menemukan hal-hal baru, bertemu dengan brand dan orang-orang baru, lalu pulang membawa pengalaman yang lebih dari sekedar produk,” ujar Devina.

Dukungan dari Livin’ dan Visa juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem transaksi dan memperluas jangkauan pasar jenama lokal.

Di usia ke-12, Basha membuktikan bahwa creative market bisa lebih dari sekadar tempat belanja. Di saat banyak jenama lokal mencari cara untuk bertahan, “Paradis” menjadi jawaban: sebuah ruang untuk tetap bergerak, terhubung, dan saling menguatkan.

Teks & Foto: Bagus
Editor: Lilicya