50 Persen Wisudawan UNUSA Sudah Bekerja

SURABAYA – Lebih dari 50 persen wisudawan Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) tercatat sudah bekerja sebelum diwisuda.

Hal itu terungkap dalam Wisuda ke-22 UNUSA yang digelar Selasa (19/9), yang diikuti total 1.038 wisudawan.

Rektor UNUSA, Prof. Ir. Tri Yogi Yuwono, dalam sambutannya menitipkan tiga pesan utama bagi lulusan.

“Orang yang tekun dan rajin akan selalu mengalahkan orang pintar yang malas,” tegas Prof. Yogi terkait pesan pertama tentang ketekunan dan kerja keras.

Untuk pesan kedua tentang integritas, ia mengatakan, “Teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan hati manusia, rasa empati, dan solidaritas sosial. Pintar saja tidak cukup jika tidak memiliki akhlak yang mulia.”

Sementara untuk pesan ketiga, ia berpesan, “Jangan pernah lupakan jasa mereka. Kesuksesan karier kalian ke depan akan sangat tergantung pada seberapa besar kalian berbakti dan menghormati orang tua.”

Baca Juga:  Wisudawan FIP UNESA Ciptakan Game Edukatif Nina's Smart Choice untuk Siswa SD

Capaian kesiapan kerja terlihat pada Prodi D-IV K3, di mana lebih dari separuh mahasiswa telah bekerja dan dibekali Sertifikat Kompetensi Ahli K3 Muda dari LSP UNUSA.

Wisudawan D-IV K3, Zulfi Ahmad Ruhan, yang kini bekerja di perusahaan keramik dan kaca di Cikarang, mengaku bersyukur kuliah di UNUSA.

“Karena saya aktif di FMK3N (Forum Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional) jadi sering berbagi cerita dengan rekan-rekan dari kampus lain, dan ada beberapa mata kuliah di UNUSA itu tidak ada di kampus lain. Bahkan kampus negeri, jadi saya merasa beruntung bisa masuk di K3 UNUSA,” ujar Zulfi.

Wisudawan K3 lainnya, Naufal Bafiq Belvatrivano, yang sudah diterima di perusahaan batu bara di Kalimantan Utara sebelum menerima ijazah, menambahkan peran sertifikasi kampus.

“Sertifikasi K3 juga difasilitasi oleh UNUSA. Sehingga mempermudah lulusan untuk melakukan ujian sertifikasi tanpa perlu mencari di luar kampus,” kata Naufal.

Baca Juga:  Unesa Dorong Wisudawan Ciptakan Lapangan Kerja

Fenomena serupa dialami wisudawan S1 Gizi, Anis Nailun. Mahasiswi alih jenjang dari D3 Gizi Poltekkes Surabaya ini telah bekerja sebagai petugas gizi Pemkot Surabaya sejak Januari 2024.

Anis menceritakan tantangan membagi waktu antara kerja dan PKL.

“Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,” ungkap Anis.

Ia menilai sistem kuliah UNUSA membantunya.

“Untungnya kuliah di UNUSA banyak yang dilakukan secara online, jadi lebih membantu saya dalam membagi waktu,” ujarnya.

“Setelah kuliah S1 di UNUSA, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja,” imbuh Anis.

Baca Juga:  Wisudawan UNESA Ciptakan Sistem Digital Penentu Prioritas Pascabencana

Dari 1.038 wisudawan, terdapat 14 wisudawan non-Muslim dan 11 di antaranya meraih predikat sangat memuaskan.

Wisudawan asal Kupang, Meylani Fernanda Bessie, mengaku merasakan toleransi tinggi.

“Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,” kata Meylani.

Wisudawan lain, Maria Dolorosa Gale, menyatakan alasan memilih UNUSA karena akreditasi unggul.

“Salah satu alasan utama memilih Unusa adalah status akreditasi Unggul dan kualitas pendidikannya. Dosen dan mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi. Dosen juga tidak membeda-bedakan mahasiswa,” ujar Maria Dolorosa.

Sementara Maria Franciska Xaveria menegaskan kenyamanan berkuliah di UNUSA.

“Di Unusa, meskipun non-Muslim, kami tidak dibeda-bedakan. Saling menghargai dan toleransi yang tinggi membuat kami nyaman berkuliah,” kata Maria Franciska.

Teks: Bagus
Editor: Lilicya