SURABAYA — Puncak acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ditutup dengan deklarasi, doa bersama, dan donasi untuk korban bencana gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan berlangsung di Kampus Ketintang Surabaya, Jumat (21/8), dan diikuti sekitar 2.000 mahasiswa baru FISIPOL UNESA.
Ketua BEM FISIPOL UNESA Mochammad Hisyam Asrofi mengatakan tema penutupan tahun ini adalah aksi simbolik. Mahasiswa diwajibkan berpakaian hitam dan menggunakan pita hitam di lengan kiri.
“Simboliknya adalah berpakaian dan memakai pita hitam di lengan kiri. Menandakan bahwasannya Indonesia sedang berduka dan tidak baik-baik saja,” ujar Hisyam, Jumat (21/8).

Aksi simbolik ini juga menjadi panggung bebas bagi mahasiswa menyampaikan tuntutan. Empat poin utama yang disuarakan yakni mendesak pemerintah membuat kebijakan yang berorientasi pada masyarakat bawah, menolak pembungkaman dan penangkapan politik, mendesak pemerintah sigap menangani bencana alam di Kalimantan dan NTT, serta menegaskan bahwa aksi masyarakat merupakan bentuk cinta kepada negeri.
Rangkaian kegiatan dibagi dua sesi. Sesi ganjil pukul 07.00–11.00 WIB dan sesi genap pukul 13.00–16.00 WIB. Pada sesi genap dilakukan doa bersama, tabur bunga sebagai bentuk bela sungkawa, serta penggalangan dana sukarela.
“Di sisi genap nanti kita ada rangkaian untuk mendoakan teman-teman kita di NTT dan juga di Kalimantan. Serangkaian aksi simbolik nanti itu lebih ke arah kemanusiaan, yakni tabur bunga dan doa bersama untuk teman-teman di NTT,” kata Hisyam.
Bantuan yang dikumpulkan tidak hanya berupa uang tunai, tetapi juga baju, buku, dan barang lainnya. Penyaluran donasi akan diserahkan kepada fakultas dengan tuntutan transparansi.
“Untuk penyaluran bantuannya kita serahkan kepada fakultas dan kita menuntut fakultas untuk transparansi hal itu. Dan kita komitmen untuk mengawal transparansi ini sampai akhir dan terlaksana,” tegasnya.
Hisyam juga menyebut BEM fakultas dan jurusan diminta menghibahkan dananya. Selain isu eksternal, mahasiswa juga menunjukkan sikap tertib dan inklusif. FISIPOL UNESA mencatat ada 6 mahasiswa disabilitas yang mendapat pendampingan dari panitia, medis, dan BEM.
“Teman-teman bisa mempersentasikan bahwasannya mahasiswa yang berintelektual adalah menyatakan sikap dengan kondisi yang hikmat. Dan juga untuk terkait dengan teman-teman disabilitas, kami sangat berkooperasi dan maksimal untuk terus bisa merawat dan melayani,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu juga dibacakan deklarasi kampus anti-bullying dan bebas pelecehan seksual. “Deklarasi anti-bullying itu sudah kita tanamkan sejak awal kemarin, anti-bullying, kemudian kampus yang bebas dari pelecehan seksual,” tambah Hisyam.
Fakultas Ajak Mahasiswa Peduli Sosial

Wakil Dekan I Bidang Pembelajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kemahasiswaan, dan Alumni FISIPOL UNESA Dr. Harmanto menyebut PKKMB berjalan aman, tertib, dan jauh dari perpeloncoan.
“Sampai dengan hari ini, penuh dengan dinamika tetapi masih aman dan terkendali, jauh dari perpeloncoan, jauh dari bentak-bentak, jadi semua berjalan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku,” katanya.
Terkait aksi untuk NTT, Harmanto menyebut kegiatan doa bersama dan tabur bunga merupakan pembukaan momentum kepedulian. Penggalangan dana secara lebih luas akan ditindaklanjuti minggu depan untuk mahasiswa angkatan 2023, 2024, dan 2025.
“Mereka secara sukarela untuk memberikan sumbangan, baik ya sekarang sukarela lah untuk kita salurkan ke saudara-saudara yang ada di NTT. Ini sebagai momentum buka, ungkapan turut berdukacita,” jelasnya.
Penyaluran bantuan akan dikoordinasikan dengan pusat di UNESA. Bentuknya bisa disalurkan langsung ke NTT atau melalui lembaga resmi seperti PMI. Harmanto mencontohkan UNESA sebelumnya juga mengirim tim relawan ke wilayah terdampak banjir bandang di Sumatera Utara dan Aceh.
“Nanti kita koordinasi dengan pusat, rektorat, apakah nanti kita berikan langsung kepada mereka di NTT atau cukup nanti kita salurkan kepada lembaga-lembaga yang resmi,” pungkasnya.
Teks&foto: Bagus
Editor: Martin


