Travel Al Marwah Luncurkan Madrasah Umroh Haji, Misinya Dakwah Sosial

SURABAYA – Travel Al Marwah Umroh bikin gebrakan di Surabaya. Tak hanya memberangkatkan jemaah, biro perjalanan yang sudah eksis sejak 2017 ini resmi meluncurkan Madrasah Umroh Haji.

Grand opening ini digelar setelah 5 bulan hadir di Kota Pahlawan. Misi mereka jelas: ingin jadi jembatan amal saleh dan wakaf produktif, bukan sekadar bisnis travel.

“Bismillah, kita ingin meluaskan manfaat Al Marwah Umroh. Kita ingin perusahaan ini menjadi jembatan amal saleh dan wakaf produktif,” ujar Anom Marwoto Direktur Utama Al Marwah Umroh saat Grand Launching di Surabaya, Minggu (4/10).

Lewat madrasah ini, kata Anom, jemaah tidak langsung berangkat. Mereka dibekali ilmu dulu, dibimbing, didampingi full selama di Tanah Suci, sampai dijaga kemabrurannya lewat kajian rutin dan komunitas orang-orang saleh sepulang umroh.

“Kemabruran itu tidak disiapkan mendadak, tapi dari awal dengan ilmu,” tegasnya.

“Kita ingin gerakan baru di Surabaya. Banyak travel umroh hanya jualan paket. Kita ingin membawa dakwah sosial. Semakin baik orang umrohnya, semakin baik akhlaknya dan amalnya,” lanjutnya.

Materinya pun tidak melulu teknis. Ada sirah nabawiyah, bedah kitab, hingga kajian umroh dan haji.

Tumbuh Pesat, Berangkat Tiap Bulan

Sejak resmi berbadan usaha 2023, Al Marwah Umroh terus tumbuh. Tahun 2025 naik hampir 30 persen, 2026 ini melonjak hampir 40 persen. Dalam sebulan bisa 2-3 kali berangkat, masing-masing keberangkatan 30-45 jemaah.

Jika sebelumnya jemaah dominan dari Ponorogo, Pacitan, Madiun, Magetan, kini Al Marwah Umroh membuktikan diri bisa bersaing skala nasional dari Surabaya.

Bedanya Apa? All-in dan Telaten Urus Lansia

Ini yang bikin beda:

1. Madrasah Haji: pembekalan matang sebelum berangkat.
2. Layanan All-in: dari rumah sampai Mekkah beres. Jemput pakai mobil sendiri, urus paspor, vaksin, dokumen, sampai pulang diantar lagi ke rumah.
3. Ramah Lansia: jemaah sepuh paling diperhatikan. Diantar ke masjid, dijenguk kalau sakit, bahkan diantar makanan ke kamar.

“Kita pernah carikan soto 5 kilometer dari hotel karena jemaah kangen masakan istri. Biayanya kita tanggung. Biar jemaahnya nyaman ibadahnya,” cerita mereka.

Untuk paketnya bisa fleksibel: 9, 12, 14, hingga 16 hari. Paling favorit 12 hari sekitar Rp 35 juta. Jemaah termuda pernah 2 tahun, tertua 86 tahun bahkan ada yang 94 tahun. Hampir 99 persen jemaah mengaku puas dan jadi langganan, banyak yang sudah 2-3 kali berangkat dan mereferensikan keluarga.

Teks: Bagus
Editor: Lilicya