100 Hari Direksi Baru BEI Lanjutkan Reformasi dan Pendalaman Pasar

JAKARTA – Jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026-2030 yang dilantik 29 Juni lalu memasuki 100 hari kerja dengan agenda reformasi pasar modal.

Direksi BEI merealisasikan agenda strategis melalui Master Plan BEI 2026-2030 yang diarahkan meningkatkan kualitas dan transparansi pasar, memperdalam likuiditas, serta memperkuat daya saing.

Perbaikan kualitas perdagangan dilakukan lewat penyempurnaan metodologi High Shareholding Concentration (HSC) dengan menambah price impact ratio untuk saham kapitalisasi di atas Rp5 triliun, penurunan batas minimum harga saham dan DINFRA dari Rp50 menjadi Rp1 efektif 28 September 2026, serta penyempurnaan ketentuan Papan Pemantauan Khusus.

Baca Juga:  Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Penguatan emiten juga dilakukan melalui peningkatan persyaratan keuangan dan fundamental calon perusahaan tercatat dan penyempurnaan penghitungan free float.

Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar UGM Prof. Eduardus Tandelilin menilai arah kebijakan Direksi baru sudah tepat.

“Menurut saya, arah kebijakan Direksi baru BEI sudah berada di jalur yang benar karena titik berangkatnya tepat. Yang dibutuhkan pasar saat ini adalah penguatan kredibilitas dan kualitas pasar,” ujar Eduardus, Rabu (14/10).

Baca Juga:  Menkeu Suahasil Nazara Pastikan Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen

Dalam 100 hari, BEI juga memperluas instrumen investasi dengan meluncurkan lima ETF Emas pada 10 Agustus 2026 yang bertambah menjadi tujuh ETF per 8 Oktober 2026. BEI juga memulai mekanisme Intraday Short Selling (IDSS) sejak 1 Oktober 2026 dengan nilai transaksi rata-rata Rp1,68 miliar per hari hingga 8 Oktober.

“Pasar yang semakin dalam membutuhkan lebih banyak cara bagi investor untuk mengambil posisi, melakukan diversifikasi dan melakukan lindung nilai,” kata Eduardus.

Baca Juga:  OJK: Sektor Jasa Keuangan Stabil Meski IHSG Anjlok

BEI juga meluncurkan IDX Green Equity Designation sejak 31 Juli 2026 untuk transparansi saham berbasis hijau.

Saat ini jumlah investor pasar modal mencapai 32 juta. Menurut Eduardus, tantangannya adalah mendorong investor lebih aktif dan berorientasi jangka panjang.

“Dengan menjaga momentum reformasi, ambisi untuk menjadikan BEI semakin besar perlu berjalan seiring dengan upaya membangun pasar yang semakin dalam, transparan, likuid, dan dipercaya investor,” pungkasnya.

Teks: Bagus
Editor: William