Pasuruan – Menghadapi era transformasi digital, aparatur sipil negara (ASN) dituntut tidak sekadar bekerja secara mekanis. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, dalam pembukaan kegiatan “Penguatan Karakter Kepemimpinan dan Pola Pikir ASN” yang digelar Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur di Surya Hotels & Cottages Prigen, Pasuruan, Kamis (12/2).
Dalam arahannya, Emil Dardak menyoroti tantangan nyata di mana instruksi kerja yang kaku dan sangat detail kini mulai diambil alih oleh Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, jika ASN hanya bekerja berdasarkan perintah tanpa nalar kritis, maka peran mereka akan mudah tergantikan oleh teknologi.
“Instruksi yang sangat spesifik dan kaku itu adalah ranah AI. Namun, memimpin manusia membutuhkan hati dan pemikiran kritis. Kita ingin ASN yang mampu menjadi problem solver, bukan justru menjadi bagian dari masalah,” tegas Emil di hadapan 165 peserta.
Emil secara khusus mengapresiasi para Penyuluh KB yang selama ini bekerja dengan sistem “jemput bola”. Baginya, kemampuan persuasif dalam menghadapi keberagaman budaya masyarakat adalah bentuk kecerdasan emosional yang tidak dimiliki oleh mesin.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (12-13 Februari 2026) ini diinisiasi untuk merespons tingginya ekspektasi masyarakat terhadap layanan publik yang cepat dan transparan.
Plh. Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Sukamto, SE., MSi., menjelaskan bahwa penguatan karakter kepemimpinan adalah fondasi utama untuk membangun lingkungan kerja yang produktif.
“ASN saat ini harus memiliki jiwa melayani dan berorientasi pada kebutuhan pengguna. Kami ingin membangun integritas yang kuat agar setiap pegawai mampu mengimplementasikan transformasi layanan publik secara nyata di wilayah tugas masing-masing,” ujar Sukamto.
Agenda fullday meeting ini tidak hanya menyasar pejabat struktural, tetapi juga merangkul Pejabat Fungsional, Tenaga Administrasi, hingga Pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP).
Fokus utama pertemuan ini meliputi tiga poin strategis. Pertama kepemimpinan kolektif, membentuk pemimpin di setiap level yang mampu menjadi teladan. Kedua standardisasi layanan, menciptakan sistem publik yang lebih prima dan responsif. Terakhir etika dan efisiensi yakni memperkuat nilai etika kerja untuk mendukung penyederhanaan birokrasi yang efektif.
Melalui langkah ini, BKKBN Jawa Timur berkomitmen untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi keluarga-keluarga di Jawa Timur, sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang sistem kerja birokrasi yang lincah dan adaptif.
Editor: William


