BI Jatim Dorong Digitalisasi QRIS dan Literasi CBP Rupiah

BANDUNG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur terus memperkokoh kolaborasi dengan insan media melalui agenda Capacity Building yang digelar di Hotel Ibis Bandung, Sabtu (14/2). Selain memperkuat akurasi informasi ekonomi, kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk mengampanyekan digitalisasi pembayaran melalui QRIS serta gerakan Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Rifki Ismal, menegaskan bahwa sinergi dengan media sangat krusial dalam mengawal inovasi sistem pembayaran. Menurutnya, media memiliki peran vital dalam membangun kepercayaan publik terhadap transformasi digital yang sedang diusung Bank Indonesia.

Baca Juga:  BI Jatim Terapkan Lima Kebijakan Perkuat Stabilitas Dukung Pertumbuhan Ekonomi

“Kami mengajak masyarakat untuk membudayakan penggunaan QRIS sebagai standar pembayaran digital nasional yang praktis, cepat, dan aman. Di sisi lain, kami juga terus mengedukasi masyarakat melalui gerakan Cinta, Bangga, Paham Rupiah,” ujar Rifki Ismal.

Rupiah Sebagai Simbol Kedaulatan

Terkait CBP Rupiah, Rifki menekankan aspek proteksi legal berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Ia mengingatkan masyarakat akan dua hal utama dalam bertransaksi di tanah air.

Baca Juga:  Kinerja Penjualan Eceran Kota Surabaya Diprakirakan Tetap Terjaga

“Pertama, seluruh transaksi di wilayah NKRI wajib menggunakan Rupiah. Kedua, penggunaan mata uang selain Rupiah sebagai alat tukar adalah ilegal. Rupiah adalah satu-satunya alat tukar yang sah dan merupakan simbol kedaulatan bangsa,” jelasnya.

Peran Media di Tengah Dinamika Global

Di hadapan para jurnalis, Rifki menjelaskan bahwa ekonomi domestik saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga kebijakan ekonomi di Amerika dan Eropa. Oleh karena itu, informasi yang akurat dan berimbang sangat dibutuhkan untuk menjaga ekspektasi publik.

Baca Juga:  East Food Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Targetkan 20 Ribu Pengunjung di Surabaya

“Level pemahaman publik sangat ditentukan oleh cara Bapak/Ibu menyampaikan informasi. Informasi yang edukatif akan membuat masyarakat lebih cerdas dan optimis menghadapi tantangan ekonomi,” tegasnya.

Editor: Emily