BI Target 17 Miliar Transaksi QRIS pada 2026, Ekspansi ke 8 Negara dan 45 Juta Merchant

Bandung – Bank Indonesia (BI) terus memasifkan penggunaan alat pembayaran non tunai berbasis QRIS. Pada 2026, BI menargetkan 17 miliar transaksi QRIS, kehadiran di 8 negara, 45 juta merchant, serta 60 juta pengguna.

“Ini sesuai dengan tema QRIS tahun ini yakni Kemerdekaan 17-8-45. 17 miliar transaksi, hadir di 8 negara dan 45 juta merchant,” ujar Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Willy Togi, dalam forum “Capacity Building Media Jawa Timur 2026” di Bandung, Sabtu (14/2).

Willy menjelaskan, arah pengembangan QRIS mengacu pada Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030, dengan fokus 2026 pada penguatan inovasi dan internasionalisasi. Target 17 miliar transaksi menjadi dorongan agar QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransaksi.

Menurutnya, pertumbuhan QRIS sebelumnya sudah berlangsung eksponensial. Tantangan tahun depan adalah menjaga momentum tersebut sekaligus meningkatkan kualitas transaksi.

Dari sisi akseptasi, BI membidik 45 juta merchant. Mayoritas merchant QRIS saat ini merupakan pelaku usaha mikro.

Baca Juga:  Pemerintah Gelontorkan Stimulus Selama Lebaran Rp12,83 T, Diskon Transportasi Hingga Bansos

“Sebanyak 95 persen adalah usaha mikro,” katanya.

Artinya, perluasan merchant bukan sekadar soal kuantitas, tetapi juga penguatan inklusi keuangan hingga level akar rumput. Keberhasilan 43 juta merchant yang telah terstandarisasi menjadi fondasi kuat menuju target 45 juta.

Untuk mencapai 60 juta pengguna, BI akan memperluas literasi dan edukasi. Sosialisasi dinilai berkontribusi langsung terhadap peningkatan transaksi. Karena itu, BI menggandeng media sebagai mitra strategis dalam membangun kepercayaan publik.

“Ini tugas besar dari peran media, bagaimana kita membangun tone positif tersebut,” ujarnya.

Selain edukasi, kampanye tematik juga menjadi strategi utama. Pada 2026, BI menyiapkan program “QRIS Jelajah Kuliner Indonesia” yang akan mengangkat merchant unggulan dalam konsep “QRIS Star”.

“Nanti akan disebut dengan QRIS Star,” ungkap Willy. Melalui pendekatan ini, merchant didorong tidak hanya menerima pembayaran digital, tetapi juga meningkatkan daya saing dan kualitas layanan.

Baca Juga:  Airlangga Dorong OJK-BEI Terbitkan Aturan Free Float

Di tingkat internasional, BI menargetkan QRIS hadir di delapan negara. Saat ini, kerja sama cross-border QR payment linkage telah terjalin dengan Thailand, Jepang, Malaysia, dan Singapura. Sementara itu, Korea Selatan, China, India, dan Uni Emirat Arab masih dalam tahap penjajakan.

Willy menyebut penerimaan QRIS antarnegara tumbuh eksponensial seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat Indonesia dan mancanegara. Ekspansi ini dinilai membuka peluang transaksi sektor pariwisata dan perdagangan.

Dalam implementasinya, BI menggunakan skema penghubungan switching antarnegara dengan settlement berbasis Local Currency Transaction (LCT). Skema ini memungkinkan konversi langsung antar mata uang lokal sehingga lebih efisien dan kompetitif.

“Bukan saingan, tapi menyediakan alternatif lain,” jelasnya.

Dari sisi domestik, seluruh merchant QRIS telah menggunakan standar nasional yang seragam. Standarisasi ini memudahkan ekspansi baik di dalam negeri maupun luar negeri. QRIS juga dirancang agar murah dan sederhana sehingga penetrasinya ke usaha mikro berlangsung cepat.

Baca Juga:  BI Jatim Dorong Digitalisasi QRIS dan Literasi CBP Rupiah

“Bagaimana kita bisa memfasilitasi pembayaran digital dengan selembar kertas seperti ini,” katanya.

Willy menegaskan, QRIS kini tidak lagi diposisikan sekadar alat bayar, tetapi sebagai ekosistem ekonomi digital yang lebih luas. Dengan delapan negara terhubung, pelaku UMKM berpeluang menerima pembayaran langsung dari turis asing.

Ia optimistis target 17 miliar transaksi, 45 juta merchant, 60 juta pengguna, dan 8 negara mitra dapat tercapai melalui kolaborasi dan dukungan berbagai pihak.

“Ayo bareng-bareng bangun tone positif supaya masyarakat kita percaya,” ujarnya.

Menurutnya, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan tonggak penguatan sistem pembayaran nasional yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.

Editor: Lilicya