Ketua umum Majelis Ulama Islam (MUI) Anwar Iskandar mengimbau warga di Indonesia untuk menghormati perbedaan menyusul penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah.
“Bangsa kita ini adalah bangsa yang terdiri dari latar belakang yang berbagai-bagai. Itu adalah sebuah keniscayaan. Keniscayaan sebagai bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika, termasuk juga umat Islam,” kata Anwar, Rabu (18/2).
Anwar mengatakan di Indonesia saat ini ada lebih dari 80 ormas-ormas Islam. Perbedaan sikap dan pandangan organisasi memungkinkan terdapat nilai amaliah ubudiyah atau bentuk amal dan ibadah yang berbeda pula.
Namun, Anwar memandang perbedaan-perbedaan tersebut hanya menyangkut masalah yang sifatnya ijtihad atau teknis, sedang secara qath’i semua sama.
“Nah oleh karena itu, kemungkinan adanya memulai puasa atau mengakhiri puasa berbeda, itu menjadi sebuah keniscayaan yang bisa kita pahami, yang bisa kita maklumi,” ucap dia.
“Tetapi yang paling penting itu, keutuhan sebagai umat Islam itu yang harus senantiasa kita jaga. Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati,” imbuh Anwar.
Bahkan sebagai bangsa yang demokratis, kata dia, warga Indonesia perlu membiasakan diri untuk berbeda. Dengan demikian, hal tersebut menjadi bagian dinamika yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
Anwar juga menilai perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi sebuah harmoni yang indah dan ujungnya akan menjadi sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia.
“Dan persatuan Indonesia itu menjadi bagian penting dari terciptanya stabilitas nasional,” kata dia.
Editor: William


