Optimalkan Momentum Ramadan, Pakar UNAIR Dorong Masjid Jadi Pusat Kebangkitan Ekonomi Umat

SURABAYA – Bulan suci Ramadan bukan sekadar momen peningkatan ibadah spiritual, melainkan juga peluang besar bagi perputaran ekonomi berbasis komunitas. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Tika Widiastuti SE MSi, menekankan pentingnya mentransformasi peran masjid agar lebih produktif dan tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual. 

Menurut Prof. Tika, lonjakan aktivitas masyarakat di masjid selama Ramadan harus diimbangi dengan penguatan literasi ekonomi syariah. Ia mengingatkan bahwa sejak zaman Rasulullah, masjid telah berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus aktivitas sosial ekonomi.

Baca Juga:  Menelusuri Jejak Juang KH Abdul Fattah Yasin: Dari Menteri hingga Penggali Perlawanan di Kampung Kawatan

“Ramadan membuat amalan kebaikan meningkat di semua sektor. Semangat menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas sosial ekonomi seperti masa Rasulullah perlu kita hidupkan kembali,” jelas Prof. Tika dalam keterangannya.

Literasi dan Etika Konsumsi

Di tengah fenomena meningkatnya konsumsi rumah tangga saat Ramadan, Prof. Tika menyoroti risiko perilaku konsumtif yang tidak sejalan dengan nilai syariah. Masjid dinilai memiliki posisi strategis untuk mengedukasi jamaah mengenai pengelolaan keuangan dan etika konsumsi.

Baca Juga:  Uji Coba Digitalisasi Bansos 40 Daerah

Edukasi ini, menurutnya, harus melibatkan generasi muda seperti Gen Z dan milenial agar program masjid tetap relevan. “Masjid bisa membangun kesadaran kolektif bagaimana aktivitas ekonomi tetap sesuai dengan prinsip syariah,” tambahnya.

Tata Kelola Zakat yang Profesional

Terkait pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), Prof. Tika mendorong masjid untuk bekerja sama dengan lembaga amil resmi. Hal ini bertujuan untuk memastikan dana umat dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran.

Baca Juga:  Kemenag Jatim Pantau Hilal Awal Ramadan 1447 H di 21 Titik Lokasi

Ia menekankan bahwa dana yang terhimpun selama Ramadan sebaiknya tidak hanya habis untuk kegiatan konsumtif atau seremonial sesaat, tetapi juga dialokasikan untuk penguatan ekonomi mikro masyarakat sekitar.

“Prinsip keadilan dan kemaslahatan harus diwujudkan melalui program yang menghubungkan jamaah mampu dan kurang mampu secara berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemuda, Prof. Tika berharap euforia Ramadan dapat bertransformasi menjadi fondasi kemandirian ekonomi umat dalam jangka panjang.

Editor: William