SURABAYA – SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menggelar Welcome Party untuk menyambut Lucy Filipczak, peserta program Rotary Youth Exchange asal Amerika Serikat. Kegiatan berlangsung di Smamda Tower lantai 2, Kamis (6/8), sebagai hasil kerja sama sekolah dengan Rotary Club of Sidoarjo Persada.
Kedatangan Lucy disambut jajaran pimpinan sekolah, guru, dan siswa. Mengenakan jas khas peserta exchange yang dipenuhi pin dari berbagai daerah, Lucy tampak antusias berinteraksi dengan keluarga baru di Smamda.
Kepala Smamda Surabaya H. Mukhlasin, ST., MPd. mengatakan kerja sama dengan Rotary Club telah berjalan selama sembilan tahun.
“Kerja sama ini sudah berjalan sembilan tahun dan perkembangannya sangat positif. Kita saling mengisi, anak-anak kita dikirim ke luar negeri, dan siswa dari luar negeri juga ditempatkan di tempat kita,” ujarnya.
Menurut Mukhlasin, program pertukaran bertujuan membentuk lulusan yang tidak hanya menjadi warga negara Indonesia, tetapi juga warga dunia yang peduli isu global seperti perdamaian dan perubahan iklim. Selama di Surabaya, Lucy akan mengikuti kegiatan belajar mengajar, mempelajari budaya lokal dan Bahasa Indonesia, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan ekstrakurikuler.
Mukhlasin juga menekankan pentingnya memperkenalkan nilai Islam yang ramah dan toleran kepada peserta pertukaran.
“Kacamata orang Barat kadang menganggap Islam identik dengan hal-hal negatif. Ini yang ingin kita ubah. Melalui interaksi langsung, kita ingin menunjukkan bahwa Islam itu ramah, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dunia,” tegasnya.
Dia menambahkan, program ini sejalan dengan nilai utama Smamda, DEDICATE, dan semangat sekolah di usia ke-51 untuk terus berinovasi dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
*Jadi Mitra Strategis Rotary Sejak 2016*
Chair Rotary Youth Exchange (RYE) District 3420 Indonesia Enny Ambarsari menyebut Smamda telah menjadi mitra Rotary sejak 2016. Kerja sama sempat terhenti saat pandemi 2020–2021 dan dilanjutkan kembali setelahnya.
“Kenapa kami pilih sekolah ini, karena ada satu anak yang berangkat dari sekolah ini ke luar negeri. Sistemnya resiprokal sehingga anak yang berangkat dapat digantikan oleh peserta inbound di sekolah yang sama,” jelas Enny.
Sebelum Lucy, Smamda juga pernah menerima peserta dari Belgia dan Prancis. Penempatan peserta menjadi kewenangan penuh komite RYE dengan pertimbangan rekam jejak kerja sama dan proses kurasi.
Program Rotary Youth Exchange berlangsung 10 hingga 11 bulan dengan visa pelajar. Peserta wajib fokus belajar dan tidak diperkenankan bekerja. Selama setahun, peserta tinggal bersama tiga keluarga angkat berbeda agar mendapat perspektif beragam.
“Bahasa Indonesia wajib. Kami tidak bisa menaruh anak di sekolah internasional karena di sana sepenuhnya menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa adalah bagian dari budaya. Kalau tidak menguasai bahasa, mereka tidak bisa melakukan pertukaran budaya,” tegas Enny.
Untuk penempatan kelas Lucy yang berusia 15–16 tahun, pihak Rotary menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan internal Smamda Surabaya dengan mempertimbangkan kurikulum dan kebutuhan peserta didik.
Teks: Bagus, Editor: William


