Unusa Tekankan ke Dokter Baru Jaga Integritas di Era AI

SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali melantik dan mengambil sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, Kamis (13/8).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kesehatan dan kecerdasan buatan (AI), para dokter baru diminta tidak hanya menguasai kompetensi klinis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, adab, dan empati dalam menjalankan profesinya.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan sumpah dokter yang diikrarkan bukan sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan profesi, melainkan janji moral yang harus melekat sepanjang perjalanan pengabdian.

“Profesi dokter harus kalian dudukkan sebagai sebuah panggilan kemanusiaan, bukan alat mengejar materi semata,” ujar Tri Yogi dalam sambutannya.

Menurutnya, dokter lulusan Unusa memiliki tanggung jawab moral lebih besar karena dididik dalam lingkungan yang menjunjung nilai _Rahmatan lil ‘Alamin_. Karena itu, ilmu kedokteran harus berjalan beriringan dengan akhlak dan kepedulian terhadap manusia.

Pesan itu menjadi penting di tengah berbagai tantangan pelayanan kesehatan, termasuk persoalan etika dan empati di ruang digital. Tri Yogi menyinggung kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan, pasien yang sebelumnya menyampaikan keluhan pelayanan kesehatan melalui media sosial.

Baca Juga:  SD Mudipat Sambut 276 Siswa Baru Lewat MPLS Ramah dan Unjuk Karya

“Kejadian memilukan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Saya haramkan perbuatan nirempati itu keluar dari jari atau lisan seorang dokter lulusan Unusa,” tegasnya.

*Enam Pilar Dokter Unusa*
Tri Yogi menitipkan enam karakter yang harus menjadi bagian dari kepribadian setiap dokter lulusan Unusa: *integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan menghormati sesama*.

Integritas diperlukan agar dokter tetap teguh pada prinsip moral, baik saat praktik maupun berkomunikasi di ruang digital. Adab dan sopan santun penting untuk membangun hubungan dokter dengan pasien.

Sementara empati membuat dokter memahami bahwa pasien datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan, sering kali disertai rasa takut, sakit, dan cemas. “Pasien adalah amanah kudus, bukan beban,” tegasnya.

Baca Juga:  Kemensos dan Unesa Perkuat Kualitas Sekolah Rakyat, Fokus ke Kurikulum hingga Perlindungan Anak

Ia juga mengingatkan para dokter memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi pasien. Keenam karakter itu diharapkan menjadi pembeda dokter lulusan Unusa di mata masyarakat.

*Melek Teknologi, Jaga Nurani*
Tri Yogi mengingatkan para dokter baru memasuki dunia kedokteran yang berubah sangat cepat. Perkembangan AI, _telemedicine_, genomik, _big data_, hingga teknologi kesehatan lainnya telah mengubah cara kerja profesi kedokteran.

“Dunia kedokteran masa depan adalah dunia yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi interdisipliner,” katanya.

Namun ia menegaskan, teknologi tidak boleh membuat dokter kehilangan sentuhan kemanusiaan. AI dan teknologi kesehatan bisa membantu meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi tidak dapat menggantikan nilai kemanusiaan yang menjadi inti profesi dokter.

“Teknologi medis akan terus berubah, penyakit baru akan terus muncul, namun esensi kemanusiaan dari seorang dokter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” ujarnya.

Baca Juga:  Dosen UNESA Latih Guru SMKN 10 Surabaya Manfaatkan AI untuk Pembelajaran dan Penilaian

Karena itu, para dokter baru diminta menjadi _lifelong learner_. Gelar dokter yang diterima hari ini merupakan awal perjalanan untuk terus memperbarui kompetensi seiring perkembangan ilmu dan teknologi.

Tri Yogi juga berpesan kepada dokter baru yang akan menjalani program internship dan mengabdi di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia agar selalu menjaga nama baik almamater.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

Kepada orang tua, Tri Yogi menyampaikan apresiasi atas dukungan hingga putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan kedokteran.

“Kepada para dokter baru, selamat berjuang, selamat mengabdi. Selamat menyelamatkan kehidupan. Jadilah lilin yang menerangi kegelapan, dan jadilah rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya.

Teks: Bagus
Editor: Lilicya