Sarasehan Santri 2026, MWCNU Gubeng Perkuat Khidmat serta Dorong Pendekatan Relevan untuk Gen Z

SURABAYA – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gubeng, Surabaya, menggelar Sarasehan Santri 2026 di Aula JKSN, Siwalankerto Utara II No. 40 A Surabaya, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat khidmat pengurus dan program berbasis kebermanfaatan.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Gubeng, KH Samsuri, mengatakan sarasehan tersebut untuk menguatkan semangat pengabdian dan persatuan pengurus di tingkat MWC dan enam ranting yang berada di enam kelurahan.

Ia menekankan pentingnya melanjutkan perjuangan ulama dan semangat Resolusi Jihad, serta menjalankan program yang memberi manfaat nyata, seperti Lailatul Ijtima, Lesbumi, Ahad Dhuha, dan Khotmil Qur’an.

Baca Juga:  Peringati Hari Santri, Siswa SD Muhammadiyah 11 Surabaya Berkostum Gamis dan Sarung

“Program itu menjadi sarana mempererat ukhuwah dan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, MWCNU Gubeng tengah memperkuat kelembagaan pasca muktamar. Sejumlah lembaga yang akan diaktifkan kembali antara lain Lembaga Bahtsul Masail, Lazisnu, Lesbumi, dan LP Ma’arif, termasuk menghidupkan kembali pengajian dan madrasah diniyah.

Sasar Gen Z dan Manfaatkan Medsos untuk Dakwah

Perhatian utama lainnya adalah menjaga kedekatan generasi muda dengan tradisi keagamaan di tengah gempuran digital.

KH Samsuri mengakui Gen Z menghadapi tantangan berbeda dengan kemudahan akses gawai dan media sosial.

“NU perlu menghadirkan pendekatan yang relevan tanpa meninggalkan nilai-nilai dan tradisi Nahdliyin,” katanya.

Baca Juga:  Yayasan Al Kahfi Surabaya Gelar ESA 1, Bentuk Karakter Tangguh Pelajar

Ia mengingatkan, jika sosialisasi amaliah Nahdliyah berhenti, generasi muda akan hanyut mengikuti arus yang tidak jelas arahnya.

“Kalau kita berhenti menyosialisasikan amaliah-amaliah kita, mereka akan mengikuti arus yang tidak tahu arahnya. Kita harus mendampingi dan mengawal ke mana mereka akan berlabuh, setidaknya berlabuh kepada kebaikan,” tegasnya.

Untuk itu, NU perlu menciptakan ruang kegiatan yang menarik dan memanfaatkan media yang akrab dengan anak muda. Ia mendorong media sosial seperti TikTok dimanfaatkan untuk dakwah.

“Kami berharap Gen Z, walaupun kalian mau bermain TikTok, bolehlah TikTok, tetapi di situ ada nilai-nilai tradisi An-Nahdliyah,” ujarnya.

Baca Juga:  Kemenag Jatim Peringati Hari Santri 2026, Ajak Santri Berkontribusi Menuju Indonesia Emas

Langkah ini diharapkan menjadi upaya preventif dari perilaku merugikan seperti judi online.

Sementara itu, keynote speaker Sarasehan Santri 2026, Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim, memotivasi santri dengan kisah perjalanannya dari kuli bangunan hingga menjadi profesor. Ia menekankan pentingnya cita-cita tinggi, kesungguhan, dan penguasaan ilmu, bukan sekadar mengikuti pembelajaran.

Ia juga mengingatkan peran ulama dan santri dalam kemerdekaan, serta menyebut empat pilar Indonesia maju: ulama dan ilmuwan berkapasitas tinggi, birokrat yang adil, pengusaha dermawan, dan tenaga profesional berkualitas.

Teks: Bagus
Editor: William