SURABAYA – Sejarah baru tercipta! SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) benar-benar mengguncang panggung internasional!
Sebanyak 11 tim atau 62 murid cilik dari ekstrakurikuler Little Inventor sukses memborong 11 gold medal alias sapu bersih emas pada ajang bergengsi World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) dan National Youth Invention and Innovation Award (NYIIA) 2026 di Universitas Brawijaya Malang.
Tak tanggung-tanggung, semua tim yang dikirim pulang membawa emas. 11 tim berangkat, 11 emas dibawa pulang.
Awarding yang digelar pada 5 November 2026 itu menjadi saksi bisu kehebatan peneliti cilik Mudipat setelah bertarung sengit pada 2-5 November 2026.
Belum cukup sampai di situ, Mudipat juga menyabet deretan penghargaan super spesial: The Best Booth oleh Tim Steripod Station, Special Award ICGI oleh Tim Sixteen: Ecogrow, Special Award IYSA oleh Spark 5 Lab: Spice Tag dan InventiX Crew: Simulasi Kota Cerdas, serta Semi Grand Award oleh Tim Gimanah: Body Bloom!
Padahal, lawannya bukan kaleng-kaleng. WYIIA adalah lomba tingkat internasional dan NYIIA tingkat nasional yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan diikuti peserta dari 12 negara, termasuk Indonesia, Bangladesh, Korea Selatan, dan Iran. Semua ditaklukkan!
Kisah heroik itu dibagikan dalam temu peraih medali di Lantai 4 The Millenium Building, Jumat (6/11/2026).

Kepala SD Mudipat, Ustaz Edy Susanto, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut sebagian siswa baru pertama kali ikut lomba, sementara yang lain sudah berpengalaman.
“Ada beberapa anak yang pertama ikut lomba, jadi pengalaman baru. Tapi ada juga yang sudah pernah ikut, dan ini menambah pengalaman kalian,” kata Edy.
Tapi Edy langsung memberi tantangan baru! Jangan cepat puas!
“Ustadz bangga kepada kalian, tapi bukan berarti kalian berhenti di sini. Karena Desember tanggal 20-24 nanti akan ada lomba juga di UGM,” tegasnya.
Menurutnya, emas ini bukan sulap, bukan simsalabim!
“Prestasi tidak pernah datang secara instan, tetapi hasil dari kesabaran, konsistensi, dan kerja keras yang dilalui melalui tahapan yang tidak mudah,” katanya.
Hal itu diamini Penanggung jawab Little Inventor, Aliyatuz Zakiyah. Semua tim meraih emas setelah berlatih sabar dan konsisten, bahkan rela datang Sabtu dan Minggu!
“Alhamdulillah, 11 tim kita semuanya meraih gold medal. Ini bukan hasil yang instan. Anak-anak berlatih dengan sabar dan konsisten, bahkan rela datang Sabtu dan Minggu untuk latihan,” ujarnya.
“Mereka tampil percaya diri dan mampu mempresentasikan project atau hasil researchnya dengan sangat baik. Ke depan, kami berharap anak-anak harus lebih bersemangat lagi dalam berlatih dan kekompakan tim, agar prestasi tim Little Inventors semakin gemilang dan semakin banyak peneliti cilik Mudipat yang lahir,” jelasnya.
Di balik kesuksesan itu, ada tim pelatih hebat: Aliyatuz Zakiyah, Nur Ratnasari, Tajuzzaqi, Bernika Citra, Himawan Raka, dan Ike Maya Setya.
Salah satu bintang yang mencuri perhatian adalah Tim Spark 5 Lab dengan penelitian kategori Life Science berjudul “SPICE-TAG: Kantong Aroma Rempah Lokal Berpori sebagai Bio-Repellent untuk Mengurangi Aktivitas Semut”.
Anggotanya, Qaisarah Shareefa Salmahira atau Sarah, mengaku persiapan sudah dilakukan selama 2 bulan!
Inovasi SPICE-TAG menggunakan bahan cengkeh, kayu manis, dan serai. Tim membuat prototype, membandingkan tujuh formula, menghitung efektivitas penghindar, dan menguji pengusir semut.
Bahkan, Sarah sudah punya mimpi besar: memproduksi SPICE-TAG!
“Kami ada rencana memproduksi. Sebelumnya karena kami perdana memproduksi SPICE-TAG, kami mau memperbarui penelitian kami supaya lebih bagus,” ujarnya.
Perjuangannya pun tak mudah. Mencari umpan semut saja jadi drama tersendiri.
“Kita susah untuk mencari umpan semutnya ini. Awalnya kita menggunakan gula, tapi semutnya ngga mau. Terus kita menggunakan alternatif daging ayam, terus semutnya mau,” kata Sarah.
Hebatnya, SPICE-TAG tidak membunuh semut, melainkan hanya membuat semut menghindar. Ramah lingkungan banget!
Sementara itu, Annisa, murid kelas 5H dari Tim Green Inventors, mengaku semua lelahnya terbayar lunas.
“Seru, capek sih iya, kadang Sabtu, Minggu harus ke sekolah untuk latihan. Tapi akhirnya terbayar dengan gold medal. Next ingin ikut lagi,” ucapnya.
Mudipat memang bukan sekadar sekolah, tapi pabriknya peneliti cilik kelas dunia!
Teks: Bagus
Editor: Lilicya


