Gus Salam Silaturahmi ke PWNU dan PCNU se-Sulut, Tekankan Khidmah NU Perlu Menjawab Kebutuhan Masyarakat

RANBITV.COM- Tantangan organisasi keagamaan tidak berhenti pada kemampuan menjaga tradisi dan nilai, tetapi juga bagaimana kehadirannya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, khidmah jam’iyyah perlu diwujudkan melalui program dan layanan yang menjawab persoalan dan kebutuhan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Abdussalam Shohib atau Gus Salam dalam silaturahmi bersama jajaran PWNU dan PCNU se-Sulawesi Utara di Swiss-Belhotel Maleosan, Manado. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan sejumlah gagasan mengenai penguatan kehidupan jam’iyyah, tata kelola organisasi, dan khidmah kepada masyarakat.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur itu, NU merupakan rumah besar bagi warga jam’iyyah dengan latar belakang dan daerah yang beragam. Karena itu, organisasi perlu menjadi ruang yang memberikan rasa terayomi, terlayani, dan nyaman, sekaligus menjadi tempat bagi warga untuk membangun persaudaraan dan saling berkhidmah.

Baca Juga:  PDUF MUI Jatim Gelar Aksi Layanan Sehat ke-4 di Masjid Al-Khoirot Surabaya

“NU ini rumah besar warga jam’iyyah. Siapa pun mereka dari latar dan daerah manapun. Semua harus terayomi, terlayani dan merasa nyaman di dalamnya. NU menjadi tempat berteduh bagi mereka yang gerah dengan kehidupan, tempat bersilaturrohim bagi mereka yang rindu persaudaraan dan kekeluargaan. Tempat saling berkhidmah bagi mereka yang berharap syafaat,” ucapnya, Ahad (9/8).

Dalam penguatan kehidupan jam’iyyah, cucu dari salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Bisri Syansuri itu juga menyoroti pentingnya kebersamaan internal. Menurutnya, berbagai unsur dalam organisasi perlu kembali membangun hubungan yang lebih erat dengan mengurangi sekat dan kubu.

“Sudah saatnya kita bereskan di dalam dulu. Tidak ada lagi sekat, tidak ada lagi kubu. Semua duduk bareng seperti sahabat yang saling memotivasi dan membangkitkan demi mencapai keluhuran bersama melalui wadah NU,” ujarnya.

Baca Juga:  Ketua DMI Kota Surabaya Sesalkan Vonis 4 Bulan Penjara atas Kasus Pencurian Uang Rp5 Ribu

Ia mengaitkan pentingnya persaudaraan tersebut dengan pesan KH Hasyim Asy’ari dalam mukadimah Qonun Asasi mengenai hubungan antarsesama yang dilandasi kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan.

Selain kebersamaan internal, tata kelola organisasi menjadi bagian lain yang disoroti. Gus Salam menilai pengelolaan jam’iyyah perlu dilakukan secara transparan dan akuntabel, mulai dari keuangan, kebijakan, program, perkembangan pelaksanaan, hingga laporan.
“Penyelenggaraan NU ditopang oleh warga jam’iyyah dan berbagai pihak yang membantu. Maka, mereka harus tahu agar kepercayaan terjaga, bahkan meningkat,” tegasnya.

Menurut Gus Salam, kepercayaan tersebut juga berkaitan dengan bagaimana organisasi menghadirkan khidmah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. NU, kata dia, tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan yang bersifat seremoni, tetapi perlu mengambil bagian dalam berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kalau untuk menjaga negara, pemerintah hadir. Maka untuk menjaga agama, NU pun harus hadir. Tapi kehadiran NU bukan sekadar melalui pidato, tapi lewat kerja nyata,” ujar Gus Salam.

Baca Juga:  Travel Siba Berangkatkan Pemenang Undian Umroh HSN MWCNU Gubeng

Ia menyebut sejumlah bidang yang dapat menjadi ruang khidmah, antara lain pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Di bidang ekonomi, ia mendorong penguatan koperasi, UMKM pesantren, serta pengembangan ekonomi digital bagi generasi muda.

Sementara di bidang kesehatan, ia menyoroti pentingnya layanan yang berkualitas dan terjangkau. Di bidang pendidikan, transformasi pendidikan dan pesantren dinilai perlu dilakukan dengan tetap menjaga jati diri dan kepribadian.

“Semua urusan dunia ini kita jadikan ladang menanam akhirat. Bantu warga sekolah, bantu orang berobat, bantu jama’ah punya penghasilan dan dorongan ragam aktivitas demi kemashlahatan bersama. Semua itu, ibadah,” tutupnya.

Teks: Bagus
Editor: William