SURABAYA – Bupati Madiun, Hari Wuryanto, meminta mahasiswa memperkuat pemahaman budaya sebagai benteng menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat.
Menurutnya, kemajuan teknologi perlu diiringi dengan penguatan karakter agar generasi muda tetap memiliki identitas dan mampu menyaring berbagai pengaruh di ruang digital.
Pesan tersebut disampaikan Hari saat menghadiri Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Auditorium Fisipol Kampus 1 Ketintang, Surabaya.
Kehadiran Bupati Madiun menjadi bagian dari rangkaian PKKMB Fisipol Unesa 2026 yang mengangkat isu penguatan identitas mahasiswa di tengah perubahan teknologi.
Hari mengatakan budaya merupakan warisan leluhur yang berperan membentuk karakter masyarakat. Nilai integritas, sopan santun, dan sikap saling menghargai yang terkandung dalam budaya dinilai mampu menjadi pengarah bagi mahasiswa saat menghadapi perkembangan digital.
“Budaya itu bukan agama, tetapi sebuah ajaran yang membentuk karakter anak supaya terus dijaga. Kalau mereka memahami budaya yang ada di Indonesia, Insyaallah tidak terjadi permusuhan di antara kita,” ujar Hari dalam keterangan pers Rabu (19/8).
Ia menjelaskan AI merupakan alat bantu yang dibuat manusia untuk mendukung berbagai aktivitas. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak menerima seluruh informasi yang dihasilkan teknologi secara langsung tanpa mempertimbangkan nilai dan konteks sosial budaya.
“Jangan sampai panjenengan malah percaya dengan alatnya. AI itu tidak konsisten jawabannya. Jadi tetap budaya kita sebagai benteng supaya tidak terpengaruh,” tegasnya.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisipol Unesa, Muhammad Hisyam Asrofi, mengatakan penguatan budaya menjadi penting karena mahasiswa saat ini berhadapan dengan perubahan yang berlangsung cepat.
Menurutnya, perkembangan AI dapat mendorong pola pikir serba instan apabila tidak diimbangi dengan identitas dan kemampuan melakukan penyaringan informasi.
“Budaya itu menjadi identitas sebagai benteng mahasiswa. Teman-teman perlu benteng agar tidak mengalami arus perubahan yang tajam tanpa filterisasi di era ini,” kata Hisyam.
Hisyam mencontohkan Kabupaten Madiun yang memiliki kekayaan budaya, salah satunya tradisi pencak silat, sebagai gambaran bagaimana identitas daerah tetap dapat dipertahankan di tengah modernisasi.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa baru Fisipol Unesa diharapkan memiliki kesadaran untuk memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan nilai budaya. Penguatan karakter berbasis kearifan lokal dinilai dapat membantu mahasiswa menjadi generasi yang adaptif, kritis, dan tetap memiliki jati diri dalam menghadapi tantangan era AI.
Teks: Bagus
Editor: Lilicya


