Kisah Masjid Al-Muttaqin yang Ramah Musafir, Besok Dirobohkan

SURABAYA – Tidak banyak masjid yang sengaja membiarkan pintunya terbuka 24 jam. Masjid Al-Muttaqin melakukannya.

Terletak di Jalan Gresik Gadukan Nomor 99 Surabaya, masjid ini tak pernah sepi. Jemaah keluar masuk, bukan hanya untuk salat, tapi untuk beristirahat, menyeruput kopi, atau sekadar melepas lelah di perjalanan.

Takmir memang sengaja menjadikan Masjid Al-Muttaqin sebagai Masjid Ramah Musafir.

“Masjid ini secara kebetulan di pinggir jalan. Saya perhatikan banyak sekali para musafir mereka harus beristirahat, capek dan sebagainya. Masjid kita insya Allah kita buka 24 jam. Namanya Ramah Musafir. Jadi kami sediakan di sini semacam kopi, wedang jahe. Silakan mengambil dan silakan istirahat di sini,” kata Sekretaris Takmir Masjid Al-Muttaqin sekaligus Sekretaris PCM Krembangan, Mochammad Yusuf, S.Th.I.

Baca Juga:  Pemerintah Salurkan BSU ke 13,3 Juta Buruh Mulai Oktober Desember

Pada Minggu pagi (1/11), suasana itu terlihat. Masjid menggelar pengajian keluarga sakinah. Jemaah memadati ruangan. Sangat ramai. Namun mulai Senin besok (3/11), bangunan lama itu akan dirobohkan.

Bukan untuk ditutup, melainkan untuk diperluas dan diperbarui.

Masjid ini punya sejarah panjang. Dulunya bernama Masjid Miji Tunggal, berdiri sekitar tahun 1968 berdasarkan penuturan sesepuh. Pada era 1980-an, masjid bergeser ke lokasi sekarang setelah takmir membeli tanah.

Baca Juga:  PC DMI Gubeng Safari Maulid di Masjid Jam'iyatul Ma'arif, Ungkap Keagungan Nabi Muhammad

“Tanah ini seharga Rp 1 miliar sehingga kita bangun sementara segini,” ujar Yusuf.

Kini, bangunan tua itu sudah tidak lagi memadai. Ketinggian masjid dengan jalan berbeda sekitar 1,5 meter, sehingga konstruksi baru harus dibuat jauh lebih kuat.

Untuk itu, takmir telah memulai persiapan. Pengurukan tanah dan pemasangan pondasi telah dilakukan dengan biaya sekitar Rp 150 juta.

“Insya Allah masjid yang lama akan kita robohkan dan kita awali dengan cara menguruk tanah dulu. Kemudian sudah dipasang pondasi,” jelas Yusuf.

Ke depan, Masjid Al-Muttaqin akan dibangun dua lantai dengan luas yang jauh lebih besar. Jika awalnya hanya 10×10 meter, kini akan menjadi sekitar 15×20 meter.

Baca Juga:  HLN ke-81, PLN UIT JBM Gelar Aksi Sosial Perkuat Kepedulian Masyarakat

Untuk melanjutkan pembangunan tahap berikutnya, takmir membutuhkan dana sekitar Rp 400 juta.

“Kami mengajak warga bisa berdonasi. Mudah-mudahan bisa lancar,” harapnya.

Di tengah rencana pembongkaran itu, tagline Ramah Musafir tetap dipertahankan. Karena bagi takmir, masjid bukan sekadar tempat ibadah mahdhah, melainkan rumah singgah bagi siapa saja yang kelelahan di jalan.

Dan selama 24 jam, pintu itu akan tetap terbuka.

Teks: Bagus
Editor: William