Pakar Psikologi Unesa Ungkap Manfaat Puasa bagi Ketahanan Mental

SURABAYA – Puasa Ramadan, selain memiliki dimensi spiritual yang mendalam sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta, juga menyimpan manfaat yang luar biasa bagi penguatan kesehatan mental manusia. Dalam ranah psikologi, praktik menahan lapar dan dahaga ini merupakan momentum penguatan regulasi emosi, kontrol diri, serta ketahanan mental.

Hal tersebut dipaparkan oleh Dekan Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si.,Psikolog, dalam kegiatan edukasi kesehatan mental yang digelar pada acara buka bersama dan pembagian takjil gratis di halaman rektorat.

Ia menjelaskan bahwa puasa dapat dipahami sebagai latihan self-regulation atau regulasi diri yang komprehensif. Melalui ibadah ini, seseorang belajar secara sadar untuk menunda dorongan, mengelola impuls, serta mengarahkan perilaku sesuai dengan nilai dan tujuan luhur yang diyakini.

Baca Juga:  Wujudkan Indonesia Emas 2045, UNESA Gelar Seminar Nasional Mobilitas Akademik Berkelanjutan

“Dalam perspektif psikologi, kemampuan mengendalikan lapar dan emosi ini berkaitan erat dengan fungsi eksekutif otak yang melatih otot kontrol diri seseorang agar semakin kuat dan stabil,” ucapnya Jumat (6/3).

Kematangan kontrol diri tersebut beririsan langsung dengan kemampuan emotional regulation, yakni kecakapan dalam mengelola perasaan agar tetap adaptif meski berada di bawah tekanan.

Puasa dan Mindfulness

Puasa menjadi ruang latihan yang sangat baik untuk meningkatkan distress tolerance, yaitu kemampuan bertahan dalam situasi tidak nyaman tanpa bereaksi secara berlebihan.

Di tengah rutinitas harian yang sering kali penuh distraksi, Ramadan mendorong munculnya mindfulness atau kesadaran penuh yang memungkinkan individu merespons stres secara lebih proporsional melalui proses refleksi diri.

Baca Juga:  Tips Puasa Aman bagi Penderita Gangguan Ginjal dan Lambung

Secara lebih luas, Ramadan juga meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) melalui penguatan relasi sosial.

Kegiatan berbagi dan ibadah bersama yang intens selama bulan suci ini memperkokoh sense of belonging atau rasa keterhubungan sosial, yang dalam teori psikologi berperan vital sebagai penekan tingkat stres.

Layanan Psikologi danĀ  Day Care

Menariknya, manfaat ini juga didukung oleh bukti ilmiah dari kacamata neuroscience. Fakultas Psikologi Unesa secara aktif mengedukasi masyarakat mengenai bagaimana puasa memicu neuroplastisitas, kemampuan otak membentuk koneksi baru, serta neurogenesis.

Baca Juga:  Inspirasi Wisuda Unesa: Ibu dan Anak Lulus Bareng, IPK Nyaris Sempurna

“Proses ini memperkuat sinapsis atau koneksi antarsel saraf yang berdampak pada peningkatan konsentrasi dan ketangguhan otak dalam beradaptasi terhadap tekanan, yang dikenal dengan istilah neurokompensasi,” urainya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat, Fakultas Psikologi Unesa juga menyosialisasikan layanan Day Care yang dirancang berbasis keilmuan psikologi perkembangan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara profesional.

Melalui pendekatan yang menyeluruh ini, puasa dipahami sebagai sarana penguatan mental yang luar biasa jika dijalankan secara proporsional. Meski demikian, bagi individu dengan kondisi psikologis tertentu, konsultasi profesional tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental yang optimal.

Penulis: Erbagus
Editor: Lilicya